Finalis Puteri Indonesia 2016 Ikut Miss Universe Indonesia 2025
Dunia kontes kecantikan kembali menyorot nama Nastika Aprilia. Finalis Puteri Indonesia 2016 asal Sulawesi Tenggara itu dipastikan ikut bersaing di Miss Universe Indonesia 2025 setelah cukup lama absen dari panggung pageant. Kembalinya Nastika menandai babak baru dalam perjalanan kariernya, kali ini dengan bekal pengalaman dan visi yang lebih matang.
Kembali setelah sembilan tahun vakum
Selama sembilan tahun vakum, Nastika memilih menjaga jarak dari sorotan kompetisi. Kini, di usia 34 tahun, ia kembali dengan keyakinan penuh untuk menghadapi tantangan di ajang Miss Universe Indonesia 2025. Keputusan itu bukan sekadar soal kembali tampil, melainkan juga tentang membawa pesan yang lebih besar lewat keikutsertaannya.
Nastika datang dengan misi sosial bertajuk My Hands Are My Fortune. Melalui gagasan tersebut, ia ingin menegaskan bahwa nilai seorang perempuan tidak hanya diukur dari penampilan luar, tetapi juga dari kemampuan memberi manfaat bagi orang lain.
Kecantikan yang lahir dari kepedulian
Dalam pandangannya, kontes kecantikan seharusnya menjadi ruang untuk menunjukkan kontribusi nyata, bukan hanya ajang unjuk fisik. Nastika menyebut kecantikan sejati terpancar dari kecerdasan, kepedulian sosial, dan kemampuan membawa pengaruh baik bagi lingkungan sekitar.
Pandangan itu menjadi dasar langkahnya menuju Miss Universe Indonesia 2025. Bagi Nastika, keikutsertaan di ajang ini adalah kesempatan untuk menyuarakan nilai yang ia yakini selama ini: bahwa perempuan bisa tampil kuat, berdaya, dan tetap memiliki kepedulian sosial yang konkret.
Pesan yang dibawa ke panggung nasional
Kehadiran Nastika Aprilia menambah warna pada persaingan Miss Universe Indonesia 2025. Dengan latar belakang sebagai finalis Puteri Indonesia 2016, ia datang bukan sebagai peserta baru yang sekadar mengejar gelar, melainkan sebagai sosok yang ingin menjadikan panggung kecantikan sebagai ruang untuk menyampaikan gagasan.
Lewat partisipasinya, Nastika berharap bisa memberi dampak positif, tidak hanya bagi dirinya sendiri, tetapi juga bagi masyarakat yang mengikuti perjalanannya. Di tengah ketatnya persaingan, ia membawa pendekatan yang lebih personal: menjadikan pengalaman, kepedulian, dan visi sosial sebagai kekuatan utama.
Source link

