Risiko Konsumsi Daging Hiu: Pakar Ungkap Bahaya bagi Siswa
Daging hiu kembali menjadi sorotan setelah para pakar mengingatkan tingginya kandungan merkuri di dalam ikan predator laut tersebut. Pada beberapa jenis hiu, kadar merkuri disebut bisa mencapai 14 ppm, jauh lebih tinggi dibandingkan banyak ikan lain yang umum dikonsumsi. Temuan ini menjadi perhatian serius, terutama jika daging hiu dikonsumsi secara rutin oleh kelompok rentan, termasuk siswa yang masih dalam masa pertumbuhan.
Merkuri pada hiu dan dampaknya bagi tubuh
Merkuri dikenal sebagai zat berbahaya yang dapat menumpuk di dalam tubuh. Jika masuk melalui makanan, paparan ini tidak hanya berdampak sesaat, tetapi juga berpotensi memicu gangguan kesehatan jangka panjang. Dalam konteks konsumsi daging hiu, risiko yang paling dikhawatirkan adalah kerusakan pada sistem saraf pusat, yang dapat memengaruhi kemampuan berpikir, konsentrasi, dan koordinasi tubuh.
Selain itu, paparan merkuri juga dikaitkan dengan penyakit kardiovaskular, penurunan kesuburan pada pria, hingga gangguan neurodegeneratif seperti Alzheimer. Karena itu, konsumsi makanan laut tidak cukup hanya mempertimbangkan rasa atau harga, tetapi juga keamanan kandungan yang ada di dalamnya.
Waspada dalam memilih makanan laut
Bagi masyarakat, informasi soal tingginya merkuri pada hiu menjadi pengingat bahwa tidak semua hasil laut aman dikonsumsi dalam jumlah besar atau berulang. Sikap hati-hati penting diterapkan, terutama saat memilih menu untuk anak dan remaja yang tubuhnya masih berkembang dan lebih sensitif terhadap zat beracun.
Mengetahui bahaya kandungan merkuri dalam hiu dapat membantu masyarakat lebih selektif saat memilih makanan laut. Di tengah banyaknya pilihan ikan yang lebih aman, kewaspadaan menjadi langkah sederhana namun penting untuk menjaga kesehatan tubuh.
Source link

