Gelombang PHK Meluas, Perusahaan Energi hingga Teknologi Ramai-Ramai Pangkas Karyawan
Gelombang pengurangan tenaga kerja kembali menggulung sejumlah industri besar di dunia. Dari minyak dan gas, media, hingga teknologi dan penerbangan, perusahaan-perusahaan memilih langkah efisiensi di tengah biaya operasional yang tinggi, persaingan yang makin ketat, serta ketidakpastian perdagangan global yang belum mereda.
Tekanan biaya dan pasar mendorong efisiensi
Salah satu langkah paling mencolok datang dari ExxonMobil. Perusahaan energi raksasa itu berencana memangkas 500 pekerjaan di Singapura hingga akhir 2027. Jumlah tersebut setara sekitar 10 hingga 15 persen dari total 3.500 stafnya di negara itu. Pemangkasan ini menjadi bagian dari penyesuaian besar yang dilakukan perusahaan energi di tengah perubahan pasar yang cepat.
ExxonMobil bukan satu-satunya. Imperial Oil, Chevron, ConocoPhillips, dan BP juga telah mengumumkan rencana PHK setelah harga minyak mentah melemah. Tekanan harga itu muncul seiring meningkatnya pasokan dari OPEC dan sekutunya, yang membuat ruang gerak perusahaan-perusahaan energi kian sempit.
Media, PR, dan manufaktur ikut terkena dampak
Di luar sektor energi, industri media dan public relations juga tidak luput dari gelombang efisiensi. We. Communications di Singapura baru saja memberhentikan 7 persen karyawannya. Sementara itu, Mediacorp mengumumkan PHK terhadap 93 pekerja. Langkah serupa menunjukkan bahwa tekanan bisnis tidak hanya dirasakan perusahaan berbasis komoditas, tetapi juga sektor yang bergantung pada belanja iklan dan perubahan perilaku konsumen.
Di sektor otomotif dan industri, ZF Friedrichshafen, Bosch, Volvo, dan Lufthansa juga mengumumkan pengurangan tenaga kerja. Meski berasal dari lini bisnis berbeda, pola yang muncul serupa: perusahaan berusaha menyesuaikan struktur organisasi agar tetap bertahan di tengah perlambatan dan ketidakpastian permintaan.
Teknologi juga merapikan tenaga kerja
Gelombang PHK juga merembet ke sektor teknologi. Accenture menyatakan akan memberhentikan staf yang tidak dapat dilatih ulang untuk menguasai keterampilan kecerdasan buatan atau AI. Kebijakan ini memperlihatkan pergeseran kebutuhan tenaga kerja di tengah perubahan cepat teknologi, ketika perusahaan menuntut kemampuan baru yang lebih spesifik.
SoftBank Group pun mengambil langkah serupa. Meski mencatat kuartal terakhir yang sukses, perusahaan itu memangkas hampir 20 persen tim Vision Fund globalnya. Di saat yang sama, SoftBank tetap melanjutkan proyek Stargate bersama OpenAI, yang bernilai Rp8.250 triliun. Kontras antara ekspansi investasi dan pemangkasan tenaga kerja ini menegaskan bahwa perusahaan besar kini semakin selektif dalam mengatur prioritas bisnis mereka.
Gelombang PHK yang melintasi berbagai sektor ini menunjukkan satu hal: tekanan ekonomi tidak lagi terbatas pada satu industri. Perusahaan-perusahaan besar kini bergerak lebih hati-hati, sambil menimbang ulang tenaga kerja, biaya, dan arah investasi di tengah pasar yang berubah cepat.

