King Aloy Cerita Perjalanan Jadi Mualaf, dari Penolakan hingga Menerima dengan Tenang
Komika King Aloy kembali mencuri perhatian, bukan lewat panggung lawak, melainkan lewat cerita pribadinya yang disampaikan dalam sebuah podcast bersama Oki Rengga, Bene Dion, Boris Bokir, dan Indra Jegel. Di tengah obrolan yang santai dan penuh seloroh, King Aloy membuka sisi lain hidupnya: perjalanan menjadi mualaf yang ternyata tidak berlangsung mulus sejak awal.
Lahir dari keluarga Tionghoa dan besar dalam agama Kristen
Dalam percakapan itu, King Aloy menjelaskan bahwa dirinya berasal dari keluarga Tionghoa. Ia menyebut kedua orang tuanya juga berdarah Tionghoa. Sebelum memeluk Islam, ia dan keluarganya diketahui beragama Kristen. Pengakuan itu mengalir ringan, tetapi menyimpan cerita panjang tentang perubahan keyakinan yang ia alami bersama keluarganya.
Ketika Oki Rengga menanyakan asal-usul darah Tionghoa yang melekat pada dirinya, King Aloy menjawab dengan santai. Dari situ, obrolan kemudian bergeser pada momen ketika ia dan keluarganya memutuskan menjadi mualaf. Ia mengisahkan bahwa keputusan itu bukan semata datang dari dirinya, melainkan juga dorongan kuat dari ayah dan ibunya yang saat itu ingin memeluk Islam.
Awalnya menolak, lalu berdamai dengan pilihan keluarga
King Aloy tidak menutupi bahwa pada awalnya ia sempat menolak. Bahkan, ia mengaku marah ketika keluarganya mengambil keputusan tersebut. Namun seiring waktu, sikapnya berubah. Ia mulai menerima keadaan dan menjalani proses itu tanpa beban seperti sebelumnya.
Perubahan sikap itu menjadi salah satu bagian paling menarik dari cerita yang ia bagi. Di tengah suasana podcast yang ramai oleh celetukan para komika lain, King Aloy justru tampil jujur dan lugas saat menceritakan fase transisi yang pernah membuatnya resah. Kini, ia menyebut perjalanan itu sebagai pengalaman yang dijalani dengan ketenangan dan kebahagiaan.
Cerita pribadi yang dibalut tawa
Obrolan tersebut memperlihatkan bagaimana kisah hidup King Aloy tidak hanya soal perpindahan keyakinan, tetapi juga soal penerimaan dalam keluarga. Di tengah gaya bercanda khas para komika, ceritanya tetap terasa dekat dan manusiawi. Ada penolakan, ada amarah, tetapi juga ada ruang untuk menerima keputusan yang datang bersama keluarganya.
Bagi King Aloy, jalan yang ia tempuh kini bukan lagi sumber kegelisahan. Ia justru melihatnya sebagai bagian dari hidup yang membentuk dirinya hari ini, dengan lebih tenang, lebih ringan, dan tanpa kehilangan rasa syukur atas perjalanan yang pernah membuatnya bergejolak.

