Tokyo — Sebuah startup di Jepang mulai membuka jalan bagi stablecoin berbasis yen dengan strategi yang cukup agresif: pada tahap awal, pengguna tidak akan dikenakan biaya transaksi untuk JPYC. Langkah ini dipilih bukan semata untuk menarik minat pasar, melainkan untuk mempercepat adopsi di tengah persaingan aset kripto yang selama ini lebih didominasi stablecoin berbasis dolar AS.
Fokus mengejar penggunaan, bukan pendapatan awal
Startup tersebut menempatkan perluasan penggunaan sebagai prioritas utama. Dengan meniadakan biaya transaksi pada fase awal, perusahaan berharap JPYC bisa lebih cepat dikenal dan dipakai secara lebih luas di Jepang. Keuntungan, setidaknya untuk sementara, tidak akan datang dari biaya layanan, melainkan dari bunga atas kepemilikan obligasi pemerintah Jepang atau JGB yang menjadi penopang asetnya.
Model ini menunjukkan bahwa penerbit stablecoin yen masih berhitung panjang. Di pasar yang belum sepenuhnya terbentuk, membangun kepercayaan dan kebiasaan pengguna tampaknya menjadi tantangan yang lebih besar dibanding sekadar meluncurkan produk.
Stablecoin yen masih tertinggal dari dolar AS
Tomoyuki Shimoda, mantan eksekutif Bank of Japan yang kini menjadi akademisi di Universitas Rikkyo, menilai stablecoin yen akan membutuhkan waktu lebih lama untuk diterima pasar dibandingkan stablecoin yang didukung dolar AS. Menurut dia, dolar masih memiliki keunggulan besar karena statusnya sebagai mata uang cadangan dunia dan penggunaannya yang sangat luas dalam transaksi global.
"Masih ada banyak ketidakpastian mengenai seberapa luas penyebaran stablecoin yen akan terjadi di Jepang," ujar Shimoda. "Jika bank-bank besar terlibat di pasar ini, pertumbuhannya bisa meningkat. Namun, proses ini masih memerlukan waktu setidaknya dua hingga tiga tahun."
Perkembangan masih bergantung pada adopsi industri
Pandangan itu memperlihatkan bahwa masa depan JPYC tidak hanya ditentukan oleh teknologi, tetapi juga oleh sejauh mana lembaga keuangan besar bersedia masuk ke pasar. Tanpa dukungan pemain besar, stablecoin yen berisiko bergerak lambat, meski peluangnya tetap terbuka seiring meningkatnya minat pada aset digital yang lebih stabil.
Referensi: Liputan6.com
Source link

