Pada Sabtu, 22 November 2025, harga Bitcoin (BTC) turun drastis hingga mencapai level US$83.736 atau sekitar Rp1,40 miliar per keping pada Jumat sore, 21 November 2025. Kondisi ini berpotensi mengancam perusahaan milik Michael Saylor, Strategy, yang merupakan pemegang Bitcoin korporasi terbesar di dunia.
Strategy saat ini memegang sekitar 649.870 BTC, lima kali lipat lebih banyak dari saat crash besar yang terjadi pada tahun 2022. Dengan jumlah mata uang digital sebesar itu, setiap perubahan harga kecil saat ini dapat berdampak signifikan pada nilai keuangan perusahaan yang mencapai miliaran dolar. Terkait hal ini, masalah terbesar Strategy bukan hanya terkait dengan penurunan harga Bitcoin, tetapi juga menurunnya metrik krusial perusahaan, yaitu multiple to net asset value (mNAV) menjadi 0,93. Angka ini menunjukkan bahwa pasar menilai nilai perusahaan lebih rendah dari total Bitcoin yang mereka miliki.
Menurut mantan Eksekutif Goldman Sachs, Dom Kwok, keadaan di mana perusahaan publik memiliki mNAV di bawah 1 dianggap sebagai sinyal bahaya. Keadaan tersebut dapat menghambat kemampuan Strategy untuk menjalankan operasinya secara normal. Dalam kondisi seperti ini, perusahaan hanya memiliki satu pilihan untuk bertahan, yaitu menjual sebagian kepemilikan Bitcoin.
Gerry O’Shea dari Hashdex Asset Management menambahkan bahwa Strategy saat ini mendapat tekanan dari berbagai sisi, termasuk kondisi pasar kripto yang terus melemah, kepanikan investor yang semakin meningkat, dan likuiditas pasar yang terus berkurang. Meskipun demikian, Michael Saylor tetap menunjukkan keyakinan kuat terhadap fundamental Bitcoin dan ketahanan perusahaannya, meskipun pasar kripto mengalami koreksi ekstrem. Dalam wawancara dengan Fox, Saylor menegaskan bahwa Strategy memiliki kemampuan untuk bertahan dari penurunan harga Bitcoin yang ekstrem dan tetap beroperasi. Menurutnya, volatilitas Bitcoin adalah bagian dari siklus tahunan yang wajar dan akan kembali ke level tertinggi.







