Pada Selasa, 2 Desember 2025, Fabby Tumiwa, yang merupakan ahli transisi energi dan CEO Institute for Essential Services Reform (IESR), menekankan perlunya pemerintah segera membuat regulasi yang mewajibkan penggunaan semen rendah karbon, khususnya dalam proyek-proyek yang didanai oleh negara. Langkah ini dianggap penting sebagai bagian dari upaya dekarbonisasi di industri konstruksi guna mencapai target emisi nol bersih (net zero emission) Indonesia pada tahun 2060.
Menurut Fabby, saat ini sudah terdapat produk semen rendah karbon di pasar, termasuk dari produsen besar seperti SCG. Namun, pemanfaatannya masih rendah karena kurangnya permintaan dan regulasi yang belum jelas, sehingga konsumen masih lebih memilih semen portland yang memiliki kandungan karbon yang tinggi.
Fabby menyatakan bahwa pasar semen ramah lingkungan di Indonesia belum berkembang secara optimal karena minimnya minat pasar akibat kurangnya dorongan kebijakan. Selain pembuatan regulasi, peran pemerintah dalam mempercepat adopsi produk rendah karbon dengan memberikan insentif pajak dan menciptakan permintaan dianggap penting.
Ia juga menekankan untuk pemerintah memimpin transisi ini dengan mewajibkan standar material hijau dalam proyek-proyek konstruksi besar yang dikelola oleh kementerian dan lembaga terkait. Fabby mengapresiasi langkah Kementerian Perindustrian yang telah menyusun peta jalan dekarbonisasi industri hingga tahun 2050 dan merencanakan penerbitan peraturan menteri sebagai panduan bagi seluruh pelaku industri.
Fabby juga mengidentifikasi sembilan sektor industri prioritas yang perlu melakukan transisi ke teknologi rendah emisi, termasuk industri semen, besi, baja, petrokimia, kimia, dan kaca. Dia mendorong pelaku industri untuk tidak hanya menunggu aturan, tetapi juga proaktif dalam mempelajari implementasinya.







