Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengumumkan bahwa Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara telah berdiskusi dengan pihak Amerika Serikat (AS) tentang akses ke mineral kritis. Diskusi ini merupakan bagian dari negosiasi tarif nol persen untuk sejumlah komoditas sumber daya alam (SDA) Indonesia. Airlangga menjelaskan bahwa pembicaraan tersebut melibatkan akses terhadap mineral kritis yang disediakan oleh pemerintah, dengan Danantara memfasilitasi kerja sama langsung antara perusahaan Indonesia dan AS yang berminat berinvestasi di sektor mineral kritis. Beliau juga menyoroti keterlibatan AS dalam sektor mineral kritis Indonesia, termasuk komoditas seperti tembaga, nikel, bauksit, dan rare earth. Kerjasama ini diharapkan dapat ditandatangani oleh Presiden RI Prabowo Subianto dan Presiden AS Donald Trump pada akhir Januari 2026 setelah proses perundingan selesai. Selain itu, tim teknis Indonesia dan AS akan melanjutkan pertemuan mereka untuk legal drafting dokumen kesepakatan tersebut.

