Dalam banyak penelitian pendidikan, terutama yang berlabel deskriptif kuantitatif, seringkali terdapat praktik mengubah pengalaman, persepsi, atau interaksi manusia menjadi angka tanpa kerangka interpretasi yang memadai. Wawancara, refleksi siswa, atau dinamika kelas seringkali direduksi menjadi skor skala Likert, kemudian disajikan dalam bentuk persentase atau rerata. Meskipun angka-angka ini terlihat terstruktur dengan rapi, namun mereka seringkali kehilangan makna yang seharusnya mereka sampaikan. Hal ini mengakibatkan ilusi kepastian metodologis dalam interpretasi data pendidikan.

