Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump akan memberlakukan tarif dagang bagi Denmark, Norwegia, Swedia, Prancis, Jerman, Inggris, Belanda, dan Finlandia. Awalnya tarif ini sebesar 10 persen, namun akan dinaikkan menjadi 25 persen pada Juni 2026. Keputusan ini diumumkan setelah 8 negara Eropa mengirimkan misi militer ke Greenland, yang sangat tidak disukai oleh Trump. Respons terhadap ancaman Trump bermacam-macam, termasuk dari Presiden Prancis, Emmanuel Macron, yang meminta para pemimpin Uni Eropa untuk mengaktifkan Instrumen Anti-Paksaan Ekonomi (ACI), yang disebut sebagai “bazoka perdagangan”.
“Bazooka perdagangan” merupakan senjata dagang Uni Eropa yang mungkin akan digunakan untuk pertama kalinya. Instrumen ini disetujui pada 2023 dan bertujuan sebagai “alat pencegahan” untuk menyelesaikan sengketa perdagangan. Dengan aktivasi ACI, Uni Eropa dapat menanggapi tindakan negara ketiga dengan pembatasan perdagangan, termasuk kenaikan tarif, lisensi impor atau ekspor, pembatasan akses investasi, dan lain sebagainya. Prancis bahkan mengajukan permintaan agar Uni Eropa bisa memberlakukan tarif tambahan pada impor AS, serta mencegah perusahaan AS melakukan investasi di wilayahnya atau menerima pembiayaan publik.
Terlepas dari itu, ACI juga memberi Uni Eropa kewenangan untuk menuntut kompensasi ekonomi dari negara yang melakukan paksaan. Senjata ini sebenarnya dirancang untuk melawan campur tangan paksa dari China, bukan AS, tetapi situasi yang terjadi membawa Uni Eropa untuk mengambil tindakan ini. Langkah Uni Eropa merancang ACI dimulai setelah masa jabatan pertama Donald Trump berakhir, ketika terjadi ketegangan dalam hubungan perdagangan transatlantik.

