Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, membuat rencana untuk membatasi suku bunga kartu kredit, yang disambut dengan keras oleh pelaku industri keuangan. Salah satunya adalah Chief Executive Office (CEO) JPMorgan Chase, Jamie Dimon, yang menggambarkan kebijakan tersebut sebagai potensi ‘bencana ekonomi’. Trump mengusulkan batasan maksimal suku bunga kartu kredit sebesar 10 persen selama satu tahun, namun hingga saat ini belum ada kejelasan mengenai penerapan kebijakan ini. Dimon menegaskan bahwa pembatasan suku bunga kartu kredit pada tingkat 10 persen akan memiliki dampak luas dan serius terhadap perekonomian AS, terutama dalam pemangkasan akses kredit bagi sebagian besar masyarakat. Menurut Dimon, sekitar 80 persen warga AS berisiko kehilangan akses ke kredit, yang biasanya menjadi cadangan keuangan utama bagi banyak rumah tangga. Ia juga menyoroti bahwa sektor riil akan merasakan dampak terbesar, bukan hanya perusahaan kartu kredit. Asosiasi perbankan AS juga menyuarakan kekhawatiran serupa terkait pembatasan suku bunga kartu kredit ini, karena akan menyulitkan masyarakat dalam mengakses pembiayaan dan berpotensi merugikan jutaan keluarga serta pelaku usaha kecil. Rata-rata suku bunga kartu kredit di AS saat ini mencapai 20 persen, dan wacana pembatasan 10 persen pertama kali diutarakan oleh Trump saat kampanye Pilpres 2024. Ucapan Trump ini bahkan sempat memicu tekanan pada saham perusahaan kartu kredit, termasuk saham American Express, Visa, dan Mastercard, serta Barclays di Inggris.

