Perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) seharusnya membantu meningkatkan efisiensi, namun kini juga membuka pintu bagi kejahatan digital yang lebih canggih. Identitas seseorang dapat dengan mudah dipalsukan melalui teknologi deepfake yang semakin berkembang. Fenomena penipuan berbasis deepfake ini tidak lagi terjadi secara sporadis, tetapi secara masif dan terorganisir.
Pakar AI telah mengungkap bahwa penipuan berbasis deepfake telah menjadi industri besar. Teknologi untuk membuat konten palsu yang ditujukan kepada individu tertentu kini semakin murah dan mudah diakses. Alat-alat ini bisa diproduksi dalam jumlah besar dan digunakan untuk berbagai tujuan penipuan, mulai dari video palsu tokoh publik hingga penipuan investasi.
Penipuan berbasis AI semakin terarah dan tertarget, dimana teknologi yang tersedia secara luas dimanfaatkan secara negatif. Contoh kasus seperti transfer dana kepada penipu setelah panggilan video palsu menunjukkan betapa teknologi deepfake ini digunakan untuk kejahatan finansial. Para peneliti juga menyatakan bahwa tidak ada lagi hambatan untuk masuk dan menggunakan teknologi ini, karena biayanya semakin murah dan mudah diakses.
Contoh nyata dari CEO perusahaan keamanan AI sendiri mengungkap bahwa calon karyawan bahkan menggunakan video deepfake saat wawancara kerja daring. Teknologi ini semakin canggih dan kesulitan untuk dibedakan dari video asli. Hal ini memperlihatkan bahwa penipuan berbasis deepfake sudah menjadi ancaman yang nyata dalam kehidupan digital kita.

