Pasar kripto diprediksi akan terus mengalami fluktuasi dalam beberapa waktu ke depan, seiring dengan menunggu kejelasan terkait arah kebijakan moneter Amerika Serikat (AS). Kombinasi sikap the Federal Reserve yang cenderung ketat, ketidakpastian dalam kepemimpinan bank sentral, dan dinamika geopolitik turut mempengaruhi pergerakan pasar. Data dari coinmarketcap.com melaporkan bahwa harga bitcoin (BTC) mengalami kenaikan sebesar 1,11% dalam 24 jam terakhir per 20 Februari 2026, dengan penguatan sebesar 1,8% selama seminggu terakhir. Saat ini, harga bitcoin berada di angka USD 67,299 atau sekitar Rp 1,13 miliar.
Pada hari sebelumnya, harga Bitcoin sempat bergerak di kisaran USD 67.172 setelah mengalami penurunan hingga di bawah USD 66.500. Pelemahan tersebut terjadi setelah rilis risalah rapat The Fed yang dianggap lebih agresif dari yang diharapkan oleh pasar. Menurut analis Tokocrypto Fyqieh Fachrur, respon pasar kripto ini merupakan hasil dari adaptasi cepat terhadap sinyal kebijakan moneter AS.
Risalah rapat Januari yang dipublikasikan sebelumnya menunjukkan bahwa beberapa anggota The Fed belum melihat kebutuhan mendesak untuk kembali melakukan pemangkasan suku bunga. Beberapa anggota bahkan membuka peluang untuk kenaikan suku bunga jika inflasi tetap tinggi. Komite Pasar Terbuka Federal (Federal Open Market Committee/FOMC) memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,5%–3,75% dengan voting 10-2. Meskipun ada beberapa anggota yang menginginkan penurunan suku bunga, mayoritas anggota FOMC berpendapat bahwa pelonggaran lebih lanjut dapat mengganggu target inflasi 2%.
Dalam rapat tersebut juga dibahas kemungkinan penyesuaian suku bunga ke atas jika tekanan inflasi tidak kunjung mereda. Keseluruhan, pasar kripto diprediksi akan terus bergerak fluktuatif dalam waktu dekat seiring dengan sentimen pasar yang terus dipengaruhi oleh kebijakan moneter AS.

