Wednesday, March 11, 2026
HomeEkonomiBitcoin Turun Tajam ke US$63.000 Pasca Serangan AS dan Israel ke Iran

Bitcoin Turun Tajam ke US$63.000 Pasca Serangan AS dan Israel ke Iran

Harga Bitcoin Jatuh Tajam Setelah Konflik AS-Israel dengan Iran

Harga cryptocurrency terbesar di dunia, Bitcoin, mengalami penurunan yang signifikan setelah Amerika Serikat (AS) dan Israel melancarkan serangan militer ke Iran. Penurunan harga Bitcoin mencapai level hampir US$63.000 pada perdagangan Sabtu, 28 Februari 2026. Dalam waktu singkat, nilai Bitcoin merosot sekitar 3 persen hanya dalam hitungan jam, mendekati titik terendah di bawah US$60.000 yang terjadi pada 5 Februari 2026.

Meski sempat pulih dan menyentuh kisaran US$65.000, Bitcoin kembali tergelincir ke sekitar US$64.700 seiring dengan perkembangan konflik yang terus berlangsung hingga Sabtu, 28 Februari 2026. Data dari CoinMarketCap pada Minggu, 1 Maret 2026, menunjukkan adanya pemulihan sebesar 1,31 persen dalam 24 jam terakhir, mendorong harga Bitcoin bertengger di level US$66.762,06, atau sekitar Rp 1,12 miliar.

Analisis menyatakan bahwa penurunan Bitcoin mengikuti pola yang sering terjadi ketika terjadi gejolak geopolitik. Dibandingkan dengan saham dan obligasi, Bitcoin dapat diperdagangkan secara terus-menerus selama seminggu. Hal ini membuat Bitcoin menjadi salah satu aset yang paling likuid yang dapat dijual oleh investor saat risiko global meningkat, terutama saat pasar tradisional tutup.

Ketegangan geopolitik di Timur Tengah juga memperkuat ketidakpastian di pasar keuangan, termasuk aset kripto seperti Bitcoin. Dengan karakteristiknya yang sangat likuid, Bitcoin diprediksi tetap sensitif terhadap perkembangan konflik dan sentimen risiko global dalam jangka pendek. Investornya kini memperhatikan apakah Bitcoin dapat bertahan di atas level psikologis US$60.000 atau kembali melemah jika eskalasi konflik berlanjut. Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, bahkan telah mengumumkan status darurat nasional sebagai dampak dari serangan ke Iran yang melibatkan partisipasi militer AS dan meningkatkan risiko konflik yang lebih luas di kawasan tersebut.

Source link

RELATED ARTICLES

Paling Populer