Gerakan boikot layanan kecerdasan buatan (AI) populer OpenAI telah mencuat di Amerika Serikat setelah terkuak bahwa perusahaan tersebut bekerjasama dengan United States Department of Defense. Kampanye dengan tagar #QuitGPT ini telah menimbulkan kekhawatiran tentang potensi penggunaan teknologi AI untuk kepentingan militer dan pengawasan massal. Sebanyak lebih dari 2,5 juta pengguna dilaporkan telah menghentikan langganan mereka sejak isu ini mencuat pada Maret 2026, menyoroti pertanyaan tentang keterlibatan perusahaan teknologi dalam urusan pertahanan.
Di sisi lain, layanan AI lain seperti Claude milik Anthropic malah mengalami peningkatan pengguna baru. Dengan jaminan tidak bekerjasama dengan militer, perusahaan ini mulai menarik minat dari masyarakat yang mencari alternatif lain. Perdebatan seputar masa depan AI terus bergulir, diiringi kekhawatiran akan risiko-risiko baru yang mungkin timbul dari inovasi ini. Masyarakat pun mulai mempertimbangkan apakah teknologi ini benar-benar akan membawa kemajuan atau bahkan berpotensi menimbulkan dampak negatif yang signifikan.
Perbincangan tentang sejauh mana perusahaan teknologi boleh bekerjasama dengan militer menjadi fokus utama dalam kontroversi ini. Banyak pengguna kini mulai waspada terhadap penggunaan AI yang tidak transparan dan berpotensi melanggar privasi serta kebebasan individu. Kekhawatiran ini pun memicu gerakan sosial yang menuntut transparansi dan penerapan etika dalam pengembangan serta penerapan kecerdasan buatan, terutama dalam sektor-sektor yang terkait dengan keamanan nasional dan pengawasan.

