Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyebabkan kenaikan harga minyak dunia melebihi USD 110 per barel setelah mengumumkan rencana eskalasi perang di Iran. Hal ini mengancam aliran energi melalui Selat Hormuz yang sangat vital, dengan harga minyak West Texas Intermediate melonjak 11% dan Brent global dipatok di dekat USD 109 per barel. Sementara itu, harga kontrak berjangka solar Eropa melonjak di atas USD 200 per barel, mencapai level tertinggi sejak 2022.
Dalam pidatonya, Trump menyatakan bahwa Amerika Serikat akan menghantam Iran dengan keras selama 2 hingga 3 minggu ke depan. Namun, tanpa pemulihan aliran melalui Hormuz, tidak ada tanda bahwa tekanan pada pasar minyak akan mereda. Investor berharap eskalasi perang akan reda, meskipun Trump mengancam Iran dengan serangan lebih lanjut terhadap fasilitas minyak dan listrik mereka.
Meskipun harga minyak mentah jadi sorotan, harga bahan bakar olahan juga mengalami kenaikan. Lonjakan harga solar Eropa yang terbaru menandakan dampak inflasi terhadap ekonomi global. Republik Islam terus melancarkan serangan di sepanjang Teluk Persia dengan sedikit kecenderungan untuk bernegosiasi. Dengan pasokan minyak yang semakin menipis, harga minyak dan produk acuan terus berpotensi naik dalam beberapa minggu dan bulan mendatang. Investasi di pasar minyak jadi sulit dihadapkan dengan ketidakpastian, serta ekspektasi pasar yang terus berubah.

