Untuk dapat kembali memposting, pengguna harus melalui proses verifikasi identitas. Langkah ini diambil untuk mengatasi kasus peretasan akun yang kemudian digunakan untuk menyebarkan informasi investasi palsu. Dikutip dari Coinmarketcap, langkah ini diharapkan dapat mengurangi kemungkinan penipuan dengan meminta verifikasi identitas saat akun pertama kali membahas kripto.
Menurut Nikita Bier, yang memimpin pengembangan produk di X, langkah ini seharusnya dapat mengurangi insentif bagi penjahat untuk mencuri akun. Dia menjelaskan modus operandi umum yang digunakan, yaitu halaman login palsu yang menyerupai notifikasi resmi untuk memperoleh informasi akun korban.
Tindakan pencurian akun ini bukan hal baru, bahkan telah terjadi sejak platform dulu bernama Twitter. Kebijakan ini ditambahkan sebagai upaya tambahan untuk mengurangi spam dan aktivitas terkait promosi kripto. Meskipun demikian, Bier juga menyadari bahwa perlindungan email terhadap phishing masih belum optimal, sehingga X masih menghadapi kendala untuk mengatasi masalah ini sepenuhnya.
Data dari Komisi Perdagangan Federal menunjukkan bahwa penipuan kripto melalui media sosial telah berkembang menjadi masalah bernilai miliaran dolar. Tidak ada jaminan bagi korban untuk mendapatkan kembali dana yang telah hilang, mengingat transaksi berbasis blockchain yang sulit dibatalkan. Kelompok usia 40-49 tahun menjadi yang paling banyak melaporkan kasus penipuan, dengan kerugian mencapai ratusan juta dolar. Secara umum, kelompok usia 30-70 tahun rentan terhadap penipuan ini. Kebijakan penguncian akun yang diterapkan diharapkan bisa memutus rantai penipuan dengan mencegah penggunaan langsung akun yang dicuri oleh penipu.

