Dunia otomotif dan energi global saat ini sedang menghadapi situasi yang sulit. Ketegangan antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat telah mencapai titik tertinggi dengan penutupan Selat Hormuz, yang merupakan jalur utama bagi sekitar 20% pasokan minyak dunia. Hal ini mengakibatkan lonjakan harga minyak mentah Brent hingga mencapai angka US$126 per barel.
Di Indonesia, meskipun Pemerintah masih menjaga harga BBM subsidi tetap stabil, tekanan terhadap APBN semakin besar. Hal ini menimbulkan pertanyaan bagi masyarakat umum, apakah saat ini layak untuk beralih dari mobil bensin ke mobil listrik (EV) mengingat kondisi yang tidak pasti.
Sebuah analisis mendalam telah dilakukan untuk mengevaluasi kelayakan tersebut. Pertama, efisiensi biaya operasional antara mobil bensin dan mobil listrik sangat kontras. Berdasarkan data operasional tahun 2026, biaya energi per kilometer untuk mobil bensin (SUV) mencapai Rp1.200 – Rp1.500, sementara mobil listrik (EV) hanya membutuhkan sekitar Rp250 – Rp300 per km. Dalam setahun, pengguna EV bisa menghemat hingga Rp25 juta – Rp27 juta hanya dari selisih biaya energi, hal ini menjadi sangat penting di tengah inflasi akibat konflik global.
Kedua, dalam hal keamanan energi, penggunaan energi listrik dinilai lebih aman dibandingkan minyak bumi. Konflik di Selat Hormuz menunjukkan kerentanan pasokan minyak terhadap gangguan geopolitik, sementara pasokan listrik di Indonesia lebih stabil dan bersumber dari dalam negeri. Dengan berbagai sumber energi seperti batu bara, gas alam lokal, dan transisi ke energi terbarukan, pasokan listrik tidak terputus jika terjadi gangguan pada jalur pelayaran internasional. Dengan memiliki mobil listrik, Anda dapat “memutus rantai” ketergantungan pada konflik Timur Tengah.

