Pada Minggu, 12 April 2026, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa tidak akan ada kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) dan LPG subsidi di Indonesia dalam menghadapi krisis geopolitik Timur Tengah. Dalam sambutannya di Musyawarah Daerah (Musda) XI Partai Golkar Sulawesi Utara (Sulut) di Manado, Bahlil menyampaikan komitmen pemerintah untuk menjaga stabilitas harga BBM dan LPG subsidi dengan mencari berbagai solusi.
Bahlil menjelaskan bahwa Presiden Prabowo Subianto telah menekankan pentingnya swasembada energi dan pangan bagi Indonesia, dan sebagai Menteri ESDM, ia bertanggung jawab untuk mencapai target tersebut. Upaya yang telah dilakukan adalah meminimalkan jumlah impor BBM dan LPG dengan memanfaatkan sumber daya alam yang tersedia.
Meskipun konsumsi BBM Indonesia mencapai 1,5 hingga 1,6 juta barel per hari pada tahun 2024-2026, stok nasional saat ini dalam keadaan aman dengan persediaan BBM hingga 20 hari ke depan dan LPG hingga 10 hari ke depan setelah melewati masa krisis. Meskipun produksi domestik BBM hanya mencakup sekitar 600 ribu barel per hari, pemerintah tetap komitmen untuk tidak menaikkan harga BBM subsidi dan LPG 3 kg guna menjaga stabilitas ekonomi.
Lebih dari 59 persen kebutuhan BBM nasional saat ini dipenuhi melalui impor, terutama dari Singapura dan Malaysia. Hal ini menunjukkan tingginya ketergantungan Indonesia pada impor BBM. Sementara itu, negara-negara miskin di seluruh dunia juga merasakan dampak berat akibat krisis energi global, dengan biaya impor BBM yang mencapai US$155 miliar per tahun, berdampak pada sektor listrik dan ekonomi mereka.

