Belakangan ini, publik dikejutkan oleh berita yang seharusnya tidak terkait dengan dunia pendidikan tinggi. Kabar tentang kampus, yang selama ini dianggap sebagai tempat intelektualitas dan pembentukan karakter, malah menjadi sorotan karena kasus yang mencerminkan krisis empati, seperti dugaan pelecehan seksual verbal yang melibatkan mahasiswa Fakultas Hukum di Universitas Indonesia. Kasus serupa juga terjadi di berbagai universitas lain di Indonesia, menunjukkan bagaimana perundungan dan pelecehan dapat berkembang menjadi tragedi.
Namun, marah pada kampus saja tidak cukup untuk mengatasi akar permasalahan yang lebih dalam. Data dari Survei Kesehatan Mental Remaja Nasional menunjukkan bahwa sekitar 1 dari 3 remaja Indonesia mengalami masalah kesehatan mental, sementara 2,45 juta remaja menderita gangguan mental. Bahkan, angka masalah mental bisa mencapai lebih dari 17 juta remaja dengan berbagai spektrum masalah, seperti kecemasan dan depresi. Bahkan lebih mengkhawatirkan, bunuh diri menjadi salah satu penyebab utama kematian remaja di Indonesia menurut UNICEF. Hal ini menunjukkan bahwa kita sedang menghadapi krisis generasi.
Pendidikan diharapkan menjadi tempat pembentukan karakter, namun fondasi untuk hal tersebut sebenarnya dibangun sejak dini, di rumah. Attachment Theory dan Family Systems Theory menjelaskan betapa pentingnya hubungan emosional anak dengan orang tua dalam membentuk kemampuan berhubungan, empati, dan kontrol diri seseorang. Pola komunikasi dan kedekatan di keluarga akan menjadi contoh bagi anak dalam kehidupan sosialnya. Oleh karena itu, perilaku negatif yang terjadi di kampus seperti pelecehan dan perundungan mungkin mencerminkan sesuatu yang tidak diselesaikan di rumah.
Kesehatan mental tidak hanya dimulai dari klinik atau terapi, tapi dari lingkungan keluarga. Stigma, kurang pemahaman, dan minimnya dukungan keluarga menjadi hambatan bagi remaja untuk mendapatkan bantuan profesional. Keluarga bukan hanya tempat anak mendapatkan kebutuhan fisik tapi juga emosional. Pendidikan positif dari orang tua, seperti mendengarkan tanpa menghakimi, validasi emosi, kasih sayang konsisten, memiliki dampak yang signifikan pada kesehatan mental anak.
Penting bagi keluarga untuk menjadi pertahanan pertama bagi anak dalam memahami nilai-nilai, batas, dan empati. Jika keluarga gagal memenuhi fungsi ini, maka pendidikan hanya akan menjadi tempat perbaikan, bukan pencegahan. Mulailah dengan menghabiskan waktu bersama anak, mendengarkan tanpa menghakimi, menunjukkan kasih sayang, dan menjadi tempat aman bagi anak. Pada akhirnya, sebelum seseorang menjadi mahasiswa, ia adalah anak dalam sebuah keluarga. Keluarga harus lebih dulu menguatkan mereka sebelum kampus diminta untuk memperbaiki.

