Selasa, 28 April 2026 – 22:15 WIB
Perang Iran dan Krisis Ekonomi yang Merugikan Jutaan Warga
Jakarta, VIVA – Konflik antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel telah memperparah kondisi ekonomi negara tersebut yang sebelumnya sudah dalam tekanan berat. Tindakan ribuan serangan udara, gangguan impor, lonjakan inflasi, dan pembatasan internet telah menyebabkan jutaan warga kehilangan pekerjaan dan menghadapi ancaman kemiskinan.
Proyeksi Penurunan Pendapatan Nasional dan Kemiskinan
Sebelum meletusnya konflik, ekonomi Iran sudah mengalami pelemahan akibat inflasi tinggi, korupsi, dan sanksi internasional. Pendapatan nasional per kapita turun drastis dari sekitar US$8.000 atau sekitar Rp136 juta pada tahun 2012 menjadi US$5.000 atau sekitar Rp85 juta pada tahun 2024. Program Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNDP) memperkirakan hingga 4,1 juta orang tambahan dapat jatuh miskin akibat perang ini.
Dampak Besar pada Sektor Industri dan Lapangan Pekerjaan
Kerusakan parah akibat serangan udara juga terasa di Iran. Lebih dari 23.000 pabrik dan perusahaan dilaporkan terdampak oleh serangan udara. Wakil Menteri Tenaga Kerja dan Jaminan Sosial Iran, Gholamhossein Mohammadi, menyebut kondisi ini telah menyebabkan satu juta pekerjaan hilang secara langsung.
Dampaknya bukan hanya pada sektor industri saja, tetapi juga meluas ke sektor lain seperti industri petrokimia, baja, tekstil, penerbangan, perdagangan digital, hingga pekerja lepas yang bergantung pada internet. Gangguan dalam impor dan distribusi membuat tekanan ekonomi semakin meningkat.
Serangan udara Israel terhadap kompleks petrokimia besar telah menyebabkan ribuan pekerja dirumahkan tanpa gaji. Banyak perusahaan harus menghentikan operasional mereka akibat tekanan gabungan dari perang, inflasi, resesi, dan penurunan permintaan. Hal ini tercermin dari data resmi yang mencatat inflasi tahunan mencapai 72 persen pada bulan Maret.
Dampak pada Warga
Serangan udara dan pembatasan internet telah memukul para pekerja dengan kuat. Banyak di antara mereka yang kehilangan pekerjaan, seperti Asal, seorang desainer lepas, dan Jafar, seorang analis data. Hal ini juga memengaruhi perempuan yang bekerja dari rumah, seperti Somayeh, seorang pengajar bahasa Jerman online.

