Selama hidupnya, Yasser Arafat menjadi representasi paling menonjol dari perjuangan bangsa Palestina, sekaligus sosok yang selalu berpindah dari satu pengasingan ke pengasingan lain.
Sebagaimana dicatat oleh banyak penulis, jejak hidup Arafat berpindah dari Amman ke Beirut, ke Tunis, dan akhirnya terjebak di Ramallah, menggambarkan kisah pemimpin yang berusaha bertahan di tengah ancaman perang, pengusiran, dan aksi militer Israel.
Dalam “Yasir Arafat: A Political Biography”, Barry Rubin dan Judith Colp Rubin menyamakan perjalanan itu layaknya sebuah odyssey, penuh liku-liku dan bahaya.
Arafat dikenal karena kemampuannya menghindari serangan musuh sambil menjaga semangat perlawanan nasional Palestina tetap menyala.
Banyak pengamat sulit memahami kepribadian Arafat karena ia bergerak di antara bayang-bayang propaganda, rahasia, dan adu narasi, sehingga frasa seperti “misteri” dan “mitos” kerap disematkan padanya (Aburish, 1998).
Dia secara tegas memandang perjuangan Palestina sebagai upaya mempertahankan eksistensi bangsa, bukan sekadar konflik tanah atau urusan politik semata—suatu bentuk perlawanan terhadap upaya “menghapus identitas nasional” rakyatnya (Journal of Palestine Studies, 1982).
Melalui Fatah dan kemudian PLO, Arafat berperan mengubah identitas Palestina dari kumpulan pengungsi menjadi aktor politik internasional.
Ia membawa isu Palestina ke panggung dunia seperti Liga Arab, Gerakan Non-Blok, sampai PBB, membingkai konflik Palestina dalam konteks perlawanan anti-kolonialisme.
Meski mendapatkan kekalahan di Yordania dan Lebanon, posisi simbolisnya sulit digoyang, sebagaimana ditekankan Rubin dan Rubin (2003) yang menilai Arafat sebagai figur politik Timur Tengah yang penuh paradoks.
Arafat memang tidak sekadar pemimpin—dia adalah personifikasi gerakan nasional itu sendiri.
Karenanya serangan terhadap Arafat berlangsung dengan berbagai cara, tidak hanya lewat senjata, tetapi juga lewat pencemaran nama baik dan serangan personal.
Salah satu tuduhan yang dilemparkan adalah soal orientasi seksualnya dan penyakit AIDS.
Menurut investigasi Al Jazeera (“Myth Buster: Killing Arafat”, 2013), rumor tersebut sengaja disebarkan pihak-pihak yang punya kepentingan, tanpa bukti medis yang sahih.
Penulis Israel Uri Avnery menganggap fitnah itu sebagai bagian dari mesin propaganda Israel, dan tokoh lain seperti Bassam Abu Sharif menolaknya keras dalam memoarnya, menegaskan bahwa Arafat sangat mengagumi perempuan.
Serangan-serangan isu pribadi tersebut tampaknya dirancang agar rakyat Palestina kehilangan kepercayaan terhadap simbol mereka.
Tak hanya masalah reputasi hidupnya, teka-teki terbesar tentang Arafat juga menyelimuti kematiannya.
Pada 2004, Arafat tiba-tiba sakit parah dan meninggal tanpa autopsi di rumah sakit Perancis.
Bertahun-tahun kemudian, penyelidikan ilmiah di Swiss menyatakan ada kemungkinan sedang Arafat diracun Polonium-210, walaupun penyebab kematian sebenarnya, hingga kini, tetap menjadi misteri tanpa jawaban pasti (Mangin et al., 2016).
Lingkaran terdekat Arafat, seperti Abu Sharif, telah lama menumbuhkan kecurigaan bahwa Arafat menjadi korban operasi pembunuhan, terutama karena ia hidup dikelilingi operasi intelijen musuh sepanjang puluhan tahun.
Pengalaman selamat dari perang saudara, pengepungan, invasi, hingga isolasi—semuanya membuat dugaan terkena racun menjadi masuk akal dalam logika dunia politik Timur Tengah.
Misteri tentang kematian Arafat dijadikan narasi politik oleh lawan maupun pendukungnya.
Namun, di tengah semua kabut rumor itu, Arafat tidak pernah melepas isu identitas bangsa Palestina dari panggung utama perjuangannya.
Dalam pernyataannya, ia menekankan bahwa pendirian institusi nasional dan pemulihan identitas kolektif Palestina adalah kunci utama, bukan sekadar perebutan wilayah (Arafat, 1982).
Hal ini meneguhkan pandangan bahwa pertarungan narasi tentang siapa Arafat sesungguhnya akan terus berlangsung—antara mitos, tuduhan, dan propaganda yang mengiringi namanya.
Reputasi, tubuh, bahkan kematian Arafat seolah tidak pernah benar-benar menjadi miliknya sendiri, melainkan milik arena politik yang tak pernah selesai.
Sebagian mengagumi Arafat sebagai ikon perlawanan, sementara yang lain menilainya sebagai politisi pragmatis yang menyeret Palestina ke negosiasi Oslo yang kontroversial.
Inilah mengapa, meski Arafat sering dibingkai sebagai “teroris” oleh musuhnya, ia terlalu besar untuk dijelaskan hanya dalam satu narasi.
Kisah hidup Arafat adalah gambaran rentetan narasi yang selalu diperebutkan, diwarnai teka-teki dan propaganda yang tak kunjung usai.
Selama simbol yang diwakilinya tetap hidup di benak rakyatnya, Arafat akan selalu menjadi figur yang diperebutkan maknanya, dan selama isu Palestina belum tuntas, sosoknya akan terus mengisi perdebatan dunia.
Sumber: Yasser Arafat: Simbol Palestina Di Tengah Mitos, Propaganda, Dan Misteri Kematian
Sumber: Yasser Arafat Dan Politik Mitos

