ESDM: Angkutan Logistik dan Umum Masih Gunakan BBM Subsidi untuk Tekan Dampak Kenaikan Harga Pertamax
Pada Kamis, 11 Juni 2026, Juru Bicara Kementerian ESDM, Dwi Anggia, menyatakan bahwa angkutan logistik dan angkutan umum masih menggunakan BBM bersubsidi guna menekan dampak dari naiknya harga Pertamax.
Perpindahan Konsumen dari Pertamax ke Pertalite Belum Menyebar Secara Luas
Menurut Anggia, perpindahan konsumen dari Pertamax ke Pertalite belum terjadi secara masif. Hal ini terkait dengan kekhawatiran atas dampak kenaikan harga Pertamax yang dapat berbeda pada setiap sektor usaha. Dengan demikian, Anggia berharap dampak dari kenaikan harga BBM nonsubsidi dapat diminimalisir.
Viral Netizen Serukan Peralihan ke Pertalite, Respons dari Masyarakat
Netizen mulai merespons peralihan dari Pertamax ke Pertalite. Purbaya, misalnya, memberikan tanggapannya terkait hal ini. Sekretaris Jenderal Hipmi, Anggawira, sebelumnya memperkirakan bahwa industri logistik, transportasi, distribusi barang, jasa lapangan, konstruksi, perkebunan, hingga UMKM dengan mobilitas tinggi akan merasakan peningkatan biaya operasional secara langsung.
Harga bahan bakar non-subsidi Pertamax (RON 92) telah naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter, sedangkan Pertamax Green 95 (RON 95) naik dari Rp 12.900 menjadi Rp 17.000 per liter. Meskipun demikian, harga produk BBM non-subsidi lainnya dari Pertamina tidak mengalami kenaikan.
Dirut Pertamina, Simon Aloysius Mantiri, menegaskan bahwa keamanan pasokan BBM di seluruh jaringan SPBU milik Pertamina di Indonesia terjamin. Harga Pertalite dan Biosolar tetap stabil masing-masing di Rp 10.000 dan Rp 6.800 per liter. Selain itu, harga Pertamax Turbo (RON 98), Dexlite (CN 51), dan Pertamina Dex (CN 53) juga tetap.

