Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Targetkan Residu Sampah di Bawah 20 Persen Melalui Gerakan Pilah Sampah
Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, memiliki target ambisius untuk menekan residu sampah yang berakhir di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) hingga di bawah 20 persen melalui Gerakan Pilah Sampah. Dalam sambutannya usai membuka Jakarta Eco Future Fest (JEFF) 2026 di Balai Kota DKI Jakarta, Pramono menekankan pentingnya praktik pilah sampah dalam penanganan masalah sampah di ibu kota.
Antusiasme Masyarakat Terhadap Gerakan Pilah Sampah
Sejak diterbitkannya Instruksi Gubernur Nomor 5 Tahun 2026, Gerakan Pilah Sampah mendapat sambutan luas dari masyarakat Jakarta. Pramono Anung menyebut bahwa saat ini gerakan ini melibatkan berbagai elemen masyarakat, seperti komunitas lingkungan, RT/RW, hingga Abang None Jakarta.
Partisipasi masyarakat dalam Gerakan Pilah Sampah terasa kuat, dengan 6.336 peserta turut serta dalam kegiatan eco-enzym yang membantu Jakarta meraih rekor MURI. Komunitas seperti Recosystem juga aktif dalam mengkampanyekan pengelolaan sampah di ibu kota.
Penguatan Infrastruktur dan Perubahan Perilaku Masyarakat
Selain mengubah perilaku masyarakat, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta juga fokus memperkuat infrastruktur pengelolaan sampah. Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah, pengoperasian RDF Rorotan dan RDF Bantargebang, serta fasilitas pengolahan menjadi bahan bakar turut menjadi langkah nyata dalam mengatasi masalah sampah di Jakarta.
Pramono optimistis bahwa kombinasi perubahan perilaku masyarakat dan penguatan infrastruktur akan mampu mengurangi timbulan sampah di Jakarta yang mencapai 9.000 ton per hari. Dengan Gerakan Pilah Sampah, kualitas lingkungan permukiman di Jakarta juga mulai terlihat membaik, dengan penurunan jumlah RW kumuh dari 445 RW pada 2017 menjadi 211 RW pada 2026.
Menyikapi dampak positif yang dirasakan oleh masyarakat Jakarta, Pramono berharap Gerakan Pilah Sampah tidak hanya menjadi program pemerintah, tetapi menjadi gaya hidup bagi seluruh warga Jakarta.

