Gubernur DKI Jakarta dan Menteri LH Tekankan Pentingnya Diskusi Marhaenisme
Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, dan Menteri Lingkungan Hidup, Mohammad Jumhur Hidayat, menegaskan pentingnya ruang diskusi publik mengenai Marhaenisme dan implementasinya dalam kebijakan. Keduanya memaparkan pandangan mereka saat menghadiri peluncuran dan diskusi buku “Marhaenisme: Dalil Baru untuk Gen Z” karya Airlangga Pribadi Kusman dan Rocky Gerung di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta Pusat.
Implementasi Marhaenisme dalam Kebijakan
Pramono Anung menyoroti pentingnya mengimplementasikan gagasan Marhaenisme secara konkret. Menurutnya, selama ini tantangan utama adalah bagaimana memperbaiki bangsa Indonesia dari lapisan terbawah. Ia berharap agar diskusi ini tidak hanya menjadi wacana belaka, tetapi bisa menghasilkan langkah nyata untuk kemajuan bangsa.
Tantangan Kesejahteraan Kaum Marhaen
Menyusul 80 tahun Indonesia merdeka, Menteri Lingkungan Hidup, Mohammad Jumhur Hidayat, menilai bahwa kesejahteraan kaum Marhaen masih menjadi pekerjaan rumah. Ia menyatakan bahwa meskipun telah merdeka selama 80 tahun, masih ada kegagalan dalam menyejahterakan kaum Marhaen. Jumhur memberikan solusi dengan mengusulkan pemanfaatan perdagangan karbon sebagai potensi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Indonesia yang memiliki hutan tropis besar bisa memanfaatkan perdagangan karbon untuk keuntungan bersama.
Jumhur menyarankan kepada Gubernur Pramono Anung untuk membangun instrumen penyerapan karbon di kawasan Bantar Gebang. Hal ini bertujuan untuk meredakan gas metana di kawasan tersebut. Potensi keuntungan yang bisa diraih dari penyerapan karbon ini diharapkan dapat dimanfaatkan oleh lapisan masyarakat Marhaen, bukan hanya oleh kalangan elit.
Diskusi ini menegaskan pentingnya pembaharuan pemikiran dan implementasi kebijakan yang berpihak kepada kaum Marhaen. Langkah-langkah konkret perlu diambil untuk meningkatkan kualitas hidup mereka dan mencapai kesejahteraan yang diinginkan.

