Rupiah Menguat Meski Ekonomi RI Anjlok di Kuartal II-2026
Peningkatan harga minyak pasca-serangan militer AS terhadap Iran memberikan sentimen positif bagi rupiah, meskipun proyeksi ekonomi Indonesia di kuartal II-2026 mengalami penurunan. Hal ini disampaikan oleh Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede.
Rupiah Berada di Level Rp 18.055
Data dari Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor BI) menunjukkan bahwa pada Kamis, 30 Juli 2026, kurs rupiah terhadap dolar AS berada di level Rp 18.078, menguat 9 poin dari sebelumnya. Sementara pada hari Jumat, 31 Juli 2026, rupiah ditransaksikan di level Rp 18.055 per dolar AS, menguat 56 poin atau 0,31 persen dari sebelumnya.
AS Kembali Serang Iran
Serangan AS terhadap Iran yang terjadi pada Rabu malam, 29 Juli 2026, menjadi sorotan utama. Serangan ini dilakukan sebagai respons terhadap “percobaan serangan Iran” terhadap pasukan AS di Timur Tengah. Presiden AS, Donald Trump, mengancam akan memberikan respons yang sangat keras.
Dampak dari serangan tersebut cukup signifikan, terutama dalam kaitannya dengan ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Sementara itu, data terbaru menunjukkan pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) AS melambat pada kuartal II-2026, di bawah ekspektasi pasar.
Saat ini, fokus utama adalah menjaga stabilitas ekonomi dan keuangan, terutama dalam hal nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Berbagai faktor geopolitik dan ekonomi global turut memengaruhi arah pergerakan rupiah ke depannya.
Sementara itu, Josua Pardede memproyeksikan rupiah akan bergerak dalam kisaran Rp 18 ribu hingga Rp 18.125 per dolar AS dalam waktu dekat.

