Artificial intelligence (AI) mempercepat proses eksplorasi dalam arsitektur, tetapi belum menggantikan peran manusia dalam menentukan arah, makna, dan kualitas sebuah karya. Teknologi ini dinilai efektif untuk menghasilkan lebih banyak kemungkinan desain dalam waktu singkat, namun keputusan akhir tetap bergantung pada arsitek dan desainer.
AI Memperluas Eksplorasi Desain
Pandangan tersebut mengemuka dalam MM Talk: AI Webinar yang digelar MM Galleri secara daring pada Selasa, 22 September 2026. Diskusi itu menghadirkan Tim Fu, Founder & Director Studio Tim Fu, yang mengikuti acara dari London.
Hadir pula Peter S. Tjioe, Founder & Creative Director MM Galleri Group, Hengky Djaja, Director MM Galleri Jakarta & Bali, serta Mario Wibowo, Architectural Photographer.
Tim Fu menjelaskan, AI dapat membantu arsitek membuka lebih banyak alternatif ketika mengembangkan gagasan. Pemanfaatannya mencakup sejumlah tahapan, mulai dari merumuskan ide awal, mengeksplorasi bentuk dan materialitas, hingga mengembangkan desain.
Meski mampu mempercepat proses tersebut, AI tetap memerlukan arahan manusia agar hasil yang dihasilkan sesuai dengan kebutuhan. Tim menekankan pentingnya keterlibatan arsitek dalam menentukan konsep, fungsi, konteks, material, serta kelayakan desain.
“Guiding it is always better than not guiding it because ultimately I think at the AI stage currently still requires a lot of human input to give you better results,” ujarnya, dikutip Selasa, 22 September 2026.
Material dan Sentuhan Manusia Tetap Penting
Perkembangan AI juga membuka peluang untuk mengeksplorasi material dan bentuk yang lebih kompleks. Dalam praktiknya, AI dapat dikombinasikan dengan robotik, CNC, serta digital fabrication. Teknologi tersebut memungkinkan arsitek mengembangkan kemungkinan baru, termasuk dalam pemanfaatan batu alam.
Peter S. Tjioe menilai AI sebaiknya dipandang sebagai alat yang memperluas kreativitas manusia. Menurut dia, kemampuan teknologi untuk menghasilkan konsep dan visual secara cepat tidak serta-merta membuatnya mampu menggantikan proses mewujudkan gagasan menjadi karya fisik.
“Teknologi bisa menjadi alat yang sangat powerful, tetapi sebuah karya tetap membutuhkan soul dan sense of beauty. Ada rasa dan nilai artistik yang datang dari manusia,” ujar Peter.
Ia juga menyoroti pentingnya material dan craftsmanship dalam arsitektur. Pengalaman MM Galleri dalam mengembangkan natural stone, termasuk ultra-thin stone dan Bended Marble Technology, disebut menjadi bagian dari upaya mengeksplorasi kemungkinan baru dalam penggunaan material.
Otomatisasi sebagai Pendukung Pekerjaan
Sementara itu, Mario Wibowo melihat penggunaan AI dan otomatisasi akan semakin meluas di berbagai tahap pekerjaan arsitektur. Penerapannya dapat mencakup proses penyusunan konsep, desain, hingga pembuatan construction drawing.
Namun, Mario menilai teknologi tersebut lebih tepat ditempatkan sebagai pendukung pekerjaan manusia. AI dapat membantu mempercepat dan memperluas proses eksplorasi, sedangkan pertimbangan kreatif, artistik, dan teknis tetap memerlukan keterlibatan arsitek serta desainer.

