Penyanyi senior Kadri membuka babak baru dalam perjalanan musiknya dengan merilis single “Mambangkik Batang Tarandam”. Dalam karya ciptaan Jimmo tersebut, Kadri berkolaborasi dengan Nando Satoko, penyanyi muda Minangkabau. Lagu ini membawa unsur budaya Minangkabau sekaligus mengangkat persoalan cinta yang berhadapan dengan adat dan persoalan restu.
“Mambangkik Batang Tarandam” bercerita tentang hubungan asmara yang kandas karena terbentur aturan adat dan tidak memperoleh restu. Kisah itu menjadi dasar bagi Kadri untuk mengajukan pertanyaan yang lebih luas: apakah cinta yang terhalang adat memang harus berakhir begitu saja?
“Ketika cinta kandas karena adat, apakah kisahnya harus benar-benar berakhir? Pertanyaan itulah yang menemukan gema baru dalam Mambangkik Batang Tarandam,” kata Kadri.
Kisah cinta yang kembali diangkat
Menurut Kadri, single ini tidak berdiri sendiri dalam rangkaian karya terbarunya. Lagu tersebut memiliki kaitan dengan “Sabana Malu Sabana Rindu”, karya sebelumnya yang mengeksplorasi nuansa retro melalui balutan city pop. Jika lagu terdahulu mengangkat kisah cinta jarak jauh, “Mambangkik Batang Tarandam” membawa cerita itu ke persoalan yang berbeda.
Hubungan yang sebelumnya berakhir karena tidak mendapatkan restu adat kini digambarkan memasuki babak baru. Sesuatu yang sempat terpendam kembali diangkat ke permukaan. Perubahan itu membuat tema yang dibawa tetap berhubungan dengan karya sebelumnya, tetapi persoalan dan warna musiknya hadir dalam bentuk yang berbeda.
“Lagu ini hadir sebagai kelanjutan dari ‘Sabana Malu Sabana Rindu’, yang sebelumnya membawa kisah cinta jarak jauh dalam balutan city pop. Hubungan yang berakhir karena tak mendapat restu adat kini memasuki babak berbeda: sesuatu yang pernah terpendam kembali diangkat ke permukaan,” jelas Kadri.
Kolaborasi Kadri dan Nando Satoko
Kehadiran Nando Satoko memberi posisi penting dalam karya tersebut. Ia merupakan penyanyi muda Minangkabau yang digandeng Kadri untuk membawakan lagu ciptaan Jimmo itu. Kolaborasi keduanya sekaligus mempertemukan penyanyi senior dan talenta muda dalam karya yang menjadikan nilai budaya Minangkabau sebagai bagian dari ceritanya.
Bagi Kadri, “Mambangkik Batang Tarandam” menjadi kelanjutan eksplorasi musikal yang telah ia mulai melalui karya sebelumnya. Namun, lagu ini tidak hanya menawarkan perubahan warna musik. Cerita yang dibawanya juga bergeser dari persoalan jarak menuju hubungan yang diuji oleh adat serta restu.
Melalui single ini, Kadri kembali menyuguhkan kisah cinta yang belum sepenuhnya selesai. Pertanyaan mengenai nasib hubungan yang terhalang adat menjadi inti cerita, sementara pengangkatan kembali sesuatu yang pernah terpendam menandai babak berbeda dalam rangkaian karya terbarunya.

