JAKARTA — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup sesi I perdagangan Selasa, 16 September 2025, di zona merah. Meski turun tipis, pergerakan pasar tetap menyimpan sejumlah catatan menarik, terutama dari tiga saham yang justru tampil menonjol saat indeks utama terkoreksi.
IHSG Terkoreksi, Transaksi Tetap Ramai
IHSG melemah 0,27 persen atau 21,85 poin ke level 7.915,26. Di tengah tekanan tersebut, aktivitas perdagangan masih terbilang tinggi. Nilai transaksi tercatat Rp 9,27 triliun dengan frekuensi mencapai 1,29 juta kali. Kondisi ini menunjukkan pelaku pasar tetap aktif, meski arah indeks belum sepenuhnya solid.
Analis Phintraco Sekuritas menilai secara teknikal IHSG masih memiliki peluang bergerak terbatas. Histogram MACD disebut mulai membentuk sinyal positif, sementara Stochastic RSI berada di area pivot. Artinya, ruang pemulihan masih terbuka, walau pasar belum keluar dari tekanan jangka pendek.
Tekanan Datang dari Sektor Keuangan dan Bahan Baku
Pergerakan IHSG pada sesi I terutama dipukul oleh pelemahan di beberapa sektor besar. Sektor keuangan, bahan baku, dan infrastruktur menjadi penekan utama indeks. Di sisi lain, tidak semua sektor ikut melemah. Sektor non-siklikal, industri, dan transportasi justru mampu bertahan dan mencatat kenaikan, sehingga menahan pelemahan indeks agar tidak lebih dalam.
Untuk sesi kedua, Phintraco Sekuritas memperkirakan IHSG bergerak dalam rentang 7.900-7.950. Rentang ini menandakan pasar masih mencari arah, dengan kecenderungan konsolidasi setelah koreksi tipis di awal perdagangan.
Tiga Saham yang Mencuri Perhatian
Di tengah pelemahan indeks, sejumlah saham papan utama tetap mampu mencatat penguatan yang cukup solid. Unilever Indonesia Tbk (UNVR) memimpin kenaikan dengan menguat 3,55 persen. Di belakangnya ada Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) yang naik 3,17 persen, serta PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) yang melonjak 2,01 persen.
Ketiganya menjadi pengecualian di saat pasar cenderung hati-hati. Kenaikan saham-saham tersebut memberi sinyal bahwa rotasi minat beli masih terjadi, terutama pada emiten-emiten tertentu yang dinilai mampu bertahan di tengah tekanan indeks.
Source link

