Monday, July 13, 2026
HomeCryptoMenjelajahi Peluang Harga Cardano

Menjelajahi Peluang Harga Cardano

Harga cardano (ADA) tengah berada dalam tekanan, meski posisinya masih kokoh di jajaran aset kripto terbesar dunia. Dalam 12 bulan terakhir, nilainya terkoreksi sekitar 13 persen, berlawanan dengan bitcoin dan ethereum yang justru masing-masing mencatat kenaikan 9 persen dan 2 persen. Namun, di tengah pelemahan itu, Cardano tetap bertahan sebagai kripto paling berharga ke-10 di dunia dengan kapitalisasi pasar mencapai USD 18 miliar atau sekitar Rp 301,15 triliun.

Pada Minggu malam, 16 November 2025 pukul 21.13 WIB, harga Cardano tercatat turun 3,45 persen dalam 24 jam terakhir dan melemah 13,02 persen dalam sepekan. Mengutip Yahoo Finance, harga ADA berada di level USD 0,4914. Kondisi ini membuat Cardano masih jauh dari level puncaknya, lebih dari 80 persen di bawah harga tertinggi sepanjang masa, ketika sejumlah aset kripto besar lain sempat menorehkan rekor baru pada awal tahun ini.

Masih Jauh dari Puncak, tetapi Belum Kehilangan Daya Tarik

Meski grafik jangka pendeknya belum meyakinkan, Cardano masih menyimpan harapan di mata sebagian pelaku pasar. Sejumlah perkiraan menyebut harga ADA berpeluang kembali menyentuh USD 1 dalam setahun ke depan. Proyeksi itu bertumpu pada anggapan bahwa minat terhadap jaringan proof-of-stake dan aplikasi terdesentralisasi masih akan tumbuh, meski persaingan di pasar kripto kian ketat.

Cardano merupakan proyek yang digagas Charles Hoskinson, salah satu pendiri Ethereum. Berbeda dengan Bitcoin yang mengandalkan proof-of-work atau PoW untuk proses penambangan, Cardano memakai mekanisme konsensus proof-of-stake (PoS) untuk memvalidasi transaksi. Dalam sistem ini, token tidak ditambang, melainkan dapat dipertaruhkan atau staking untuk memperoleh imbal hasil.

Fokus pada PoS, Staking, dan Kontrak Pintar

Di atas jaringan miliknya sendiri, Cardano mengoperasikan protokol PoS bernama Ouroboros. Berbeda dari koin yang dicetak di blockchain Ethereum, ADA dibangun langsung di protokol blockchain Cardano. Pengembangan fitur staking di jaringan ini dilakukan pada 2020, disusul dukungan kontrak pintar pada 2021.

Kontrak pintar itu membuka jalan bagi lahirnya aplikasi terdesentralisasi atau dApps, sekaligus berbagai aset kripto lain di atas jaringan Cardano. Di sisi lain, setiap proyek yang berjalan di ekosistem Cardano melewati tinjauan sejawat formal untuk menilai skalabilitas dan keamanan. Pendekatan ini menjadi pembeda utama dibanding Ethereum dan sejumlah blockchain PoS lain yang tidak selalu memakai proses formal serupa untuk menyetujui proyek baru.

Dengan kombinasi teknologi PoS, pendekatan riset yang ketat, dan ekosistem yang terus dibangun, Cardano masih menjadi salah satu nama yang diawasi pasar. Namun, pelemahan harga yang berkepanjangan menunjukkan bahwa jalan menuju pemulihan belum akan mudah.

RELATED ARTICLES

Paling Populer