Pada tahun 2025, pasar kerja mengalami pergeseran signifikan yang memberikan tekanan baru bagi lulusan sarjana. Dinamika ini terjadi di tengah upaya berbagai negara untuk memperkuat stabilitas ekonomi, namun sektor pekerjaan kerah putih justru mengalami pelemahan. Gelombang otomatisasi dan penggunaan kecerdasan buatan yang semakin luas dalam berbagai industri turut memperparah kondisi ini.
Dilansir dari laporan PHK massal dalam beberapa bulan terakhir, perusahaan teknologi, ritel, dan layanan korporasi turut tertekan dalam pasar kerja kelas profesional. Hal ini menyulitkan banyak lulusan baru maupun yang berpengalaman untuk menemukan posisi yang sesuai. Data terbaru menunjukkan bahwa pemegang gelar sarjana menjadi sumbangsih terbesar dalam tingkat pengangguran, mencapai 25 persen dari total pengangguran.
Peningkatan tingkat pengangguran bagi pemegang gelar sarjana menjadi peristiwa bersejarah, dengan angka pengangguran mencapai 2,8 persen pada bulan September. Lebih dari 1,9 juta warga dengan gelar sarjana berusia 25 tahun ke atas sedang menganggur, mencapai 1 dari 4 total pengangguran. Kondisi ini juga dirasakan oleh lulusan baru yang menghadapi pasar kerja entry-level yang semakin sulit.
Laporan pemutusan hubungan kerja dari perusahaan-perusahaan besar seperti Amazon, Target, dan Starbucks serta pengumuman pemangkasan karyawan dari Verizon Communications juga turut memperkuat gelombang PHK massal. Data dari Challenger, Gray & Christmas mencatat jumlah pengumuman PHK tertinggi dalam lebih dari 20 tahun, dimotori oleh rencana perusahaan untuk mengganti posisi dengan teknologi AI.
John Williams, Presiden Federal Reserve Bank of New York, mengungkapkan bahwa para lulusan baru menghadapi situasi yang sangat berat karena sulitnya masuk ke pasar kerja. Hanya sektor kesehatan dan bantuan sosial serta leisure dan hospitality yang menunjukkan pertumbuhan pekerjaan di tengah penurunan lapangan kerja nasional. Lowongan pekerjaan untuk desain sistem komputer, konsultasi manajemen, dan riset ilmiah juga mengalami penurunan jumlah tenaga kerja, menandai tantangan yang dihadapi pemegang gelar sarjana pada tahun 2025.

