Curah hujan yang sangat tinggi dalam beberapa hari terakhir di Pulau Sumatera menyebabkan banyak daerah mengalami masalah besar. Akibat intensitas hujan yang terus menerus, banjir dan tanah longsor melanda sejumlah wilayah di Tapanuli Tengah, Sibolga, dan Tapanuli Selatan. Sejumlah jalur transportasi penting akhirnya tertutup lumpur longsor atau genangan air, membuat beberapa wilayah di tiga provinsi tersebut tidak dapat diakses oleh kendaraan darat.
Konsekuensi terisolasinya daerah-daerah terdampak ini sangat terasa bagi warga. Kebutuhan pangan dan logistik yang mendesak menjadi sulit dipenuhi karena distribusi bantuan terhambat. Opsi menggunakan jalur darat yang biasa digunakan untuk penyaluran bantuan kini tidak memungkinkan, sehingga pemerintah dan lembaga kemanusiaan harus mencari jalan lain agar masyarakat tetap bisa memperoleh suplai yang mereka perlukan.
Menanggapi keadaan darurat ini, Gubernur Sumatera Utara, Bobby Nasution, menjelaskan dalam konferensi pers bahwa pemerintah bersama BNPB, Basarnas, dan juga TNI telah mengambil langkah cepat untuk mengantar bantuan melalui udara. Sinergi antar instansi menjadi penting karena waktu sangat krusial dan masyarakat yang terjebak di lokasi bencana sangat membutuhkan bantuan secepat mungkin.
Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi BNPB menerangkan bahwa operasi distribusi bantuan lewat udara ini memerlukan kerjasama teknis dengan TNI. Dalam keterangan tertulis, ia menyampaikan bahwa TNI sudah mulai menjalankan distribusi bantuan menggunakan pesawat angkut militer dan helikopter ke sejumlah titik. Kegiatan ini melibatkan sejumlah personel yang telah terlatih untuk melakukan operasi penerjunan barang (airdrop) dengan metode low cost low altitude atau LCLA, yang menuntut keahlian tinggi dalam mengidentifikasi titik penerjunan yang tepat.
TNI Angkatan Udara memanfaatkan keunggulan alat transportasi udara yang dimilikinya demi menjangkau wilayah yang terisolasi. Sejumlah 15 personel Satuan Pemeliharaan 72 Depohar 70 dari Lanud Soewondo Medan telah dikerahkan khusus untuk menangani operasi ini. Bantuan logistik yang diterjunkan antara lain makanan pokok, obat-obatan, dan barang kebutuhan darurat lain. Titik airdrop dipilih dengan pertimbangan situasi geografis dan kondisi alam di lokasi bencana agar bantuan dapat langsung diterima masyarakat.
Selain pesawat dan helikopter, upaya inovasi turut dilakukan melalui pemanfaatan drone transport. Kerjasama dengan beberapa perusahaan yang mengoperasikan drone berkapasitas besar di Indonesia sudah mulai dijajaki. Drone dapat terbang ke kawasan yang sangat sulit dijangkau manusia dan bisa mengirimkan bantuan dengan proses yang lebih cepat dan fleksibel.
Operasi pendistribusian bantuan lewat udara dijadwalkan berlangsung hingga pertengahan Desember 2025, menyesuaikan dengan pulihnya akses darat. Sementara itu, tim gabungan pemerintah, TNI, dan Basarnas juga terus melakukan upaya pembukaan jalur darat agar wilayah yang kini terisolasi bisa segera terhubung kembali dengan daerah lain di Sumatera. Upaya ini membutuhkan sinergi, ketelitian dan inovasi agar korban terdampak bencana bisa selamat dan kebutuhan dasarnya terpenuhi dengan baik.
Sumber: Operasi Airdrop TNI Jadi Andalan Distribusi Bantuan Di Sumatera Yang Terisolasi
Sumber: Kapasitas TNI Dalam Distribusi Bantuan Bencana Melalui Udara







