Pasar aset kripto mengalami tekanan besar setelah Bitcoin bergerak volatil dan sempat turun di bawah level USD 90.000 atau sekitar Rp 1,52 miliar (asumsi kurs Rp 16.923 per dolar AS). Kondisi ini terjadi di tengah ketidakjelasan terkait dugaan perubahan kapitalisasi pasar sebesar USD 250 miliar pada tahun 2026, yang turut melibatkan sejumlah aset kripto seperti XMR dan HYPE. Laporan mengenai pergeseran pasar tersebut masih menuai perdebatan menurut data dari Coinmarketcap, yang menunjukkan adanya keuntungan signifikan. Hal ini kembali menegaskan tingginya volatilitas pasar kripto serta dampak yang belum sepenuhnya dapat diprediksi terhadap harga Bitcoin maupun aset kripto lainnya seperti XMR dan HYPE.
Sejumlah pihak terlibat dalam perdebatan tersebut, termasuk analis ternama dan pelaku industri yang memilih untuk tetap anonim. Mereka memperkirakan volatilitas pasar masih akan berlanjut dan menyoroti dinamika pasar yang tengah berlangsung. Penurunan Bitcoin di bawah USD 90.000 mencerminkan perubahan sentimen investor serta kondisi pasar di tengah pergeseran tersebut.
Tom Lee, seorang Analis dari Fundstrat Global Advisors, mencatat bahwa dinamika pasokan pasca-halving, bersama dengan meningkatnya adopsi institusional dan korporasi, dapat mendorong Bitcoin mencapai USD 200.000, bahkan mungkin lebih, pada akhir tahun. Kabar ini menunjukkan betapa dinamisnya pasar kripto dan tantangan yang dihadapi para investor dan pelaku pasar.

