Industri penerbangan global saat ini mengalami tekanan berat akibat lonjakan biaya operasional dan persaingan yang semakin ketat, terutama dialami oleh maskapai berukuran kecil hingga menengah. Kondisi ini semakin memperburuk dengan naiknya harga bahan bakar jet dan perubahan pola permintaan penumpang. Beberapa maskapai bahkan terpaksa mengambil langkah ekstrem seperti restrukturisasi atau menghentikan operasional secara keseluruhan. Di beberapa kasus, regulator penerbangan juga turut mencabut izin operasional karena kondisi keuangan tidak memadai.
Salah satunya adalah maskapai charter asal Swedia, H-Bird Aviation Services, yang baru-baru ini dinyatakan bangkrut oleh pengadilan setempat setelah kehilangan izin operasional sejak Desember 2025. Izin operasional, atau Air Operator’s Certificate (AOC), merupakan syarat utama agar maskapai dapat beroperasi secara legal. Maskapai ini henti terbang sejak Januari 2026 dan belum jelas apakah akan mendapatkan kesempatan mencari investor baru atau langsung masuk ke proses likuidasi.
Didirikan pada tahun 1991, H-Bird Aviation Services menyediakan penerbangan charter, korporasi, dan ambulans udara ke wilayah terpencil di Swedia dan kawasan Nordik dengan armada pesawat kecil seperti Cessna. Meskipun menawarkan layanan premium, maskapai seperti ini masih menghadapi tantangan profitabilitas akibat keterbatasan jumlah penumpang premium yang sulit menutupi biaya operasional yang tinggi. Fenomena serupa juga dialami oleh maskapai lain sepanjang tahun 2025, seperti Spirit Airlines yang mengajukan kebangkrutan Chapter 11 dan Ravn Alaska yang menghentikan operasional pada bulan yang sama.

