Tuesday, October 6, 2026
HomeEkonomiKrisis Energi: Tarif Listrik dan Gas di Turki Naik 25%

Krisis Energi: Tarif Listrik dan Gas di Turki Naik 25%

ANKARA — Pemerintah Turki kembali menaikkan harga energi rumah tangga. Mulai April 2026, tarif listrik dan gas alam untuk pelanggan rumah tangga resmi naik 25 persen, kebijakan yang diperkirakan langsung menekan daya beli warga di tengah inflasi yang masih tinggi.

Tagihan Rumah Tangga Diperkirakan Membengkak

Keputusan itu diumumkan oleh Energy Market Regulatory Authority (EPDK) bersama operator pipa negara BOTAŞ. Dampaknya paling terasa pada rumah tangga, terutama keluarga kelas menengah yang selama ini sudah dibebani biaya hidup tinggi. Dengan asumsi konsumsi sekitar 250 kWh per bulan, rata-rata tagihan listrik keluarga beranggotakan empat orang diperkirakan menembus 800 lira.

Sementara itu, pelanggan komersial tidak mengalami kenaikan setinggi rumah tangga. Tarif untuk sektor ini naik 17,5 persen, lebih rendah dibandingkan beban yang harus ditanggung konsumen domestik.

Gas Alam Juga Naik di Berbagai Sektor

Kenaikan tidak berhenti pada listrik. Harga gas alam juga dinaikkan 25 persen untuk rumah tangga dan industri. Untuk gas alam yang digunakan dalam pembangkit listrik, pemerintah menetapkan kenaikan 19,42 persen. BOTAŞ juga menerapkan sistem tarif bertingkat, sehingga harga akan disesuaikan berdasarkan tingkat konsumsi dan harga jual yang ditetapkan perusahaan negara tersebut.

Kebijakan ini memperlihatkan bahwa tekanan biaya energi di Turki belum mereda. Di saat kebutuhan rumah tangga meningkat, pemerintah justru kembali menggeser beban ke konsumen melalui penyesuaian tarif yang lebih luas.

Inflasi Tinggi dan Gejolak Pasokan

Kenaikan tarif energi datang ketika Turki masih bergulat dengan inflasi tahunan 30,87 persen. Dalam sebulan terakhir, harga transportasi tercatat melonjak lebih dari 4,5 persen. Salah satu pendorongnya adalah kenaikan harga bahan bakar, dengan harga solar di Istanbul naik dari sekitar 60 lira per liter menjadi hampir 80 lira per liter.

Situasi ini juga tak lepas dari gejolak di kawasan. Turki mengimpor sekitar 15 persen kebutuhan gas alamnya dari Iran, sehingga gangguan pasokan di negara tetangga itu ikut memengaruhi pasar domestik. Gangguan aliran gas dari Iran setelah serangan terhadap ladang gas Pars sempat menjadi perhatian, meski Menteri Energi Alparslan Bayraktar membantah klaim adanya gangguan tersebut.

Namun, terlepas dari bantahan itu, tekanan tetap terasa. Lonjakan harga bahan bakar global kini menjalar ke listrik, transportasi, hingga pangan, membuat kenaikan tarif energi kali ini dipandang bukan sekadar penyesuaian harga, melainkan sinyal bahwa beban hidup di Turki masih jauh dari reda. Source link

RELATED ARTICLES

Paling Populer