Pemerintah Turki telah resmi menaikkan tarif listrik dan gas alam untuk rumah tangga sebesar 25 persen mulai bulan April 2026. Keputusan ini diumumkan oleh Energy Market Regulatory Authority (EPDK) bersama operator pipa negara BOTAŞ, yang langsung berdampak pada kenaikan biaya hidup masyarakat setempat. Kenaikan tarif tersebut juga diperkirakan akan membuat rata-rata tagihan listrik bulanan keluarga beranggotakan empat orang melampaui 800 lira, dengan asumsi konsumsi sekitar 250 kWh. Kelompok rumah tangga menjadi pihak yang paling terdampak, sedangkan pelanggan komersial hanya mengalami kenaikan tarif sebesar 17,5 persen.
Selain itu, harga gas alam juga mengalami kenaikan sebesar 25 persen untuk rumah tangga dan sektor industri. Kenaikan harga gas yang digunakan untuk pembangkit listrik juga terjadi sebesar 19,42 persen. Pemerintah juga menerapkan sistem tarif bertingkat untuk gas alam, di mana harga akan disesuaikan berdasarkan tingkat konsumsi dan harga jual yang ditetapkan oleh BOTAŞ.
Kenaikan harga energi ini terjadi di tengah tekanan inflasi yang masih tinggi di Turki. Inflasi tahunan di negara tersebut mencapai 30,87 persen, dengan harga transportasi yang melonjak lebih dari 4,5 persen dalam satu bulan. Hal ini dipicu oleh kenaikan harga bahan bakar, dimana harga solar di Istanbul meningkat dari sekitar 60 lira per liter menjadi hampir 80 lira per liter. Lonjakan harga energi di Turki juga dipengaruhi oleh dampak konflik di Iran yang memicu gangguan pasokan global. Negara ini mengimpor sekitar 15 persen kebutuhan gas alamnya dari Iran, sehingga gejolak di kawasan tersebut berdampak langsung terhadap stabilitas pasokan dan harga energi domestik. Adanya gangguan aliran gas dari Iran setelah serangan terhadap ladang gas Pars juga menjadi perhatian, meskipun Menteri Energi Alparslan Bayraktar membantah klaim tersebut. Meski demikian, tekanan pada harga energi tetap terjadi akibat kenaikan harga bahan bakar global, menciptakan efek berantai pada sektor listrik, transportasi, dan pangan.

