Para produsen tahu di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, merespons kenaikan harga jual kedelai impor dengan kesiapan untuk menaikkan harga jual produk tahu mereka di pasaran. Salah satu produsen tahu, Nur Rosyiddi dari Desa Ploso, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus, mengungkapkan bahwa mereka masih menunggu respon pasar serta perkembangan harga jual kedelai sebelum menaikkan harga jual tahu. Dengan kenaikan harga bahan baku kedelai, produsen tahu menghadapi penurunan keuntungan hingga 30 persen, namun mereka tetap bertahan selama masih ada keuntungan yang bisa didapatkan. Saat ini, belum ada produsen tahu lain yang menaikkan harga jualnya di pasaran, namun persaingan yang semakin ketat membuat kapasitas produksi tempat usaha mereka menurun. Meskipun begitu, para produsen tahu tetap berusaha mempertahankan harga jual tahu mereka untuk menghindari kehilangan pelanggan. Selain dijual di pasar lokal Kudus, tahu hasil produksi juga dijual hingga ke pasar Demak. Hal ini disampaikan oleh Manajer Primer Koperasi Tahu-Tempe Indonesia (Primkopti) Kabupaten Kudus, Amar Ma’ruf, yang membenarkan adanya kenaikan harga jual kedelai impor. Kenaikan harga jual kedelai impor ini dipicu oleh perang antara Amerika dan Israel yang menyerang Iran, serta berdampak pada biaya transportasi komoditas impor tersebut. Meskipun begitu, stok kedelai masih aman dengan ketersediaan 60 ton di gudang, sementara permintaan harian berkisar antara 10-20 ton. Kepala Bidang Fasilitasi Perdagangan, Promosi, dan Perlindungan Konsumen Dinas Perdagangan Kudus, Sonhaji, juga memastikan bahwa stok di pasaran masih relatif aman, sehingga pengusaha tahu maupun tempe di Kudus tidak perlu khawatir menghadapi kenaikan harga jual kedelai impor.

