Dampak perang di Timur Tengah telah mulai merembet ke sektor pangan global, terutama terhadap produksi beras yang menjadi makanan pokok bagi miliaran orang di Asia Tenggara. Konflik yang melibatkan Iran telah mengakibatkan krisis baru di wilayah tersebut. Gangguan pasokan bahan bakar dan pupuk akibat ketidakpastian di Selat Hormuz membuat para petani kesulitan menjalankan aktivitas pertanian, menyebabkan lonjakan biaya produksi dan harga. Banyak petani kecil di berbagai negara Asia Tenggara mempertimbangkan untuk mengurangi produksi atau bahkan tidak menanam sama sekali.
Di Thailand, petani terpaksa membiarkan padi yang sudah siap panen di sawah karena biaya panen yang mahal. Kondisi ini telah memicu kekhawatiran serius dalam sektor pertanian karena menjadi sumber penghidupan utama bagi masyarakat pedesaan. Meskipun biaya produksi meningkat, harga beras global masih relatif rendah, meningkatkan tekanan pada margin keuntungan petani.
Máximo Torero, ekonom utama di Food and Agriculture Organization, memperingatkan tentang dampak yang lebih luas jika gangguan pasokan terus berlanjut. Jika Selat Hormuz tetap ditutup selama 20 hingga 30 hari, hal ini bisa berdampak pada ketersediaan pangan pada paruh kedua tahun ini. Di Filipina, salah satu importir beras terbesar dunia, produksi beras diperkirakan akan turun signifikan.
Dalam kondisi yang semakin menekan petani di Asia Tenggara, solusi untuk mengatasi krisis ini sangat dibutuhkan untuk menjaga ketahanan pangan dan ekonomi wilayah tersebut.

