Perang antara Iran dan AS-Israel tidak hanya berdampak pada kenaikan harga bahan bakar, tetapi juga berpotensi meningkatkan harga bahan makanan dan sembako. Kenaikan harga minyak dunia telah mulai berdampak pada sektor pertanian, terutama melalui kenaikan harga pupuk dan biaya distribusi. Harga minyak telah naik lebih dari 40 persen sejak perang dimulai pada Februari 2026, menyebabkan harga bensin di AS melampaui US$4 per galon, sedangkan harga pupuk menjadi perhatian utama karena sepertiga pasokan pupuk dunia melewati Selat Hormuz. Meskipun Iran telah membuka kembali Selat Hormuz untuk lalu lintas komersial, kekhawatiran terhadap kelangkaan pupuk dan kenaikan harga masih menjadi ancaman, terutama bagi para petani yang merasakan dampak langsungnya. CEO Phospholutions, Hunter Swisher, mengungkapkan bahwa sektor pertanian sangat rentan terhadap gangguan geopolitik yang dapat mempengaruhi harga pupuk dan produksi pertanian secara keseluruhan. Menteri Pertanian AS, Brooke Rollins, menyatakan bahwa sebagian besar petani telah mengamankan pasokan pupuk untuk musim tanam tahun ini, namun pemerintah tetap berupaya membantu petani yang kesulitan. Kenaikan harga bahan bakar dan pupuk merupakan tantangan yang harus dihadapi oleh para petani dalam mengelola biaya produksi pertanian yang semakin mahal dan tidak stabil. Seperti yang dikutip dari Mind Your Money, situasi ini memaksa para petani untuk mengambil keputusan bijak dalam menjalankan kegiatan bercocok tanam demi menjaga keberlanjutan agrikultur.

