Monday, May 11, 2026
HomeBeritaBiaya E-commerce Memicu Keluhan Seller: Cuan Berubah Jadi Tekor

Biaya E-commerce Memicu Keluhan Seller: Cuan Berubah Jadi Tekor

Seller dan toko online di Indonesia mulai merasakan tekanan dari biaya e-commerce marketplace yang terus meningkat. Tidak hanya persaingan yang semakin ketat, tapi juga berbagai biaya tambahan yang membebani para penjual. Hal ini membuat margin keuntungan semakin menipis dan memicu keluhan dari para pelaku usaha.

Beban Biaya yang Membelit Para Penjual

Semakin menipisnya margin keuntungan seller disebabkan oleh berbagai biaya seperti biaya administrasi, ongkos kirim, biaya layanan, promosi, iklan, serta biaya retur yang harus ditanggung oleh penjual. Hal ini terutama dirasakan oleh seller kecil yang harus menyesuaikan strategi bisnis mereka demi tetap bertahan di tengah situasi yang semakin sulit.

Salah satu contoh yang dihadapi oleh seller adalah Ahmad Ramdhani, penjual pakaian wanita di TikTok dengan toko bernama ByAnara. Meskipun masih bertahan dengan berjualan secara daring, Ahmad turut merasakan tekanan biaya yang semakin mahal sejak awal Mei 2026. Hal ini membuatnya mempertimbangkan opsi untuk membuat website sendiri agar dapat mengurangi ketergantungan pada platform e-commerce.

Tekanan Margin dan Biaya Retur

Selain biaya administrasi yang terus naik, seller juga harus menanggung biaya retur yang semakin memberatkan. Biaya retur yang tidak hanya mencakup pengembalian barang tetapi juga biaya tenaga, bahan kemasan, dan waktu kerja, dapat langsung menggerus keuntungan seller. Hal ini terutama dirasakan oleh seller yang menjual barang besar atau berat karena biaya logistiknya juga ikut mahal.

Masalah terbesar muncul dari transaksi dengan sistem COD di mana barang bisa diretur jika pembeli tidak bisa menerima paket. Hal ini membuat biaya retur tetap ditanggung oleh penjual meskipun mereka tidak melakukan kesalahan dalam pengiriman.

Faktor Penyebab Seller Keluar dari Marketplace

Fenomena keluarnya seller dari e-commerce marketplace juga disebabkan oleh beberapa faktor utama yang saling berhubungan, yaitu daya beli masyarakat, kapasitas UMKM, dan struktur biaya di platform e-commerce. Penurunan daya beli masyarakat, pertumbuhan UMKM yang masuk ke marketplace, serta struktur biaya yang semakin tinggi membuat seller mulai mempertimbangkan opsi lain seperti berjualan melalui website sendiri.

Perubahan struktur ekonomi digital Indonesia menuntut penyesuaian dari seluruh pihak, baik seller, platform e-commerce, maupun pemerintah. Pelaku usaha diharapkan dapat mencari solusi untuk meningkatkan margin keuntungan, sementara pemerintah perlu turun tangan untuk menjaga daya beli masyarakat dan meningkatkan kapasitas UMKM dalam berjualan secara daring.

Source link

RELATED ARTICLES

Paling Populer