Harga Perak Melesat: Alasan di Balik Lonjakan Tajam
Pada perdagangan awal pekan ini, harga perak melonjak tajam dengan kenaikan mencapai sekitar 7 persen. Logam mulia ini mendekati angka US$86 per ounce atau sekitar Rp1,46 juta per ounce. Kenaikan ini membuat harga perak mencapai level tertinggi dalam hampir dua bulan terakhir, di tengah kekhawatiran pasar terhadap situasi geopolitik Timur Tengah.
Penolakan Proposal Perdamaian Iran oleh Presiden AS
Kenaikan harga perak dipicu oleh berbagai faktor, di antaranya adalah penolakan proposal perdamaian Iran oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Langkah ini membuat investor berbondong-bondong memburu aset safe haven. Situasi ini menciptakan ketidakpastian terkait kemungkinan konflik di kawasan Timur Tengah yang dapat mempengaruhi pasar global.
Harga Emas dan Tensi di Timur Tengah
Selain perak, harga emas juga mengalami kenaikan. Harga emas spot naik 0,3 persen menjadi US$4.725 per ounce atau sekitar Rp80,3 juta per ounce. Pasar juga terus mencermati situasi di Timur Tengah yang menjadi faktor utama yang memengaruhi harga logam mulia, terutama setelah serangan akhir pekan lalu yang dianggap mengancam stabilitas di kawasan.
Peluang Cetak Rekor Lagi
Dengan semakin meningkatnya tekanan terhadap pasar energi global akibat situasi di Selat Hormuz, harga perak terus menunjukkan tren kenaikan. Hal ini juga memperbesar risiko inflasi di berbagai negara, membuat pelaku pasar menjadi lebih hati-hati dalam menilai kebijakan bank sentral, termasuk Federal Reserve Amerika Serikat.
Pelaku pasar juga menantikan data inflasi konsumen Amerika Serikat untuk mengetahui kebijakan suku bunga The Fed ke depan. Selain itu, agenda kunjungan Presiden AS ke China juga menjadi fokus, di mana pertemuan antara Trump dan Xi Jinping membahas sejumlah isu strategis, termasuk konflik Iran, kecerdasan buatan (AI), dan senjata nuklir.

