Rumah Sakit dan Keluarga Pasien Anak: Dampak Kondisi Memprihatinkan yang Tengah Terjadi
Pada Sabtu, 16 Mei 2026, situasi memprihatinkan terkait keluarga pasien anak di rumah sakit di Indonesia masih menjadi fokus perhatian. Banyak keluarga yang harus tidur di tempat-tempat tidak layak seperti selasar rumah sakit, masjid, hingga pom bensin demi tetap mendampingi anak-anak mereka yang sedang menjalani pengobatan di rumah sakit rujukan.
Transformasi Besar Rumah Sakit Mendatang, Bagaimana Dampaknya?
Saat ini, masih banyak keluarga pasien anak yang datang dari luar kota untuk menjalani pengobatan jangka panjang, seperti kasus kanker, penyakit jantung, dan gangguan ginjal. Data internal RS Kemenkes Surabaya mencatat bahwa sekitar 70 persen pasien anak berasal dari luar daerah, seperti Banyuwangi, Jember, Madiun, hingga Madura. Perjalanan jauh hingga 10 jam harus ditempuh oleh sebagian keluarga demi mendapatkan layanan kesehatan yang diperlukan untuk anak mereka.
Biaya dan Pemulihan Emosional
Tidak hanya menghadapi tekanan emosional akibat kondisi anak yang sakit, keluarga pasien juga harus menghadapi beban biaya hidup selama proses pengobatan. Diperkirakan dalam sebulan, biaya untuk akomodasi dan konsumsi mencapai Rp8,5 juta. Salah satu contoh adalah Elfridus, seorang ayah dari pasien anak yang pernah tinggal di Rumah Singgah Denpasar selama anaknya menjalani pengobatan leukemia.
Elfridus menyampaikan bahwa selain beban biaya, keberadaan rumah singgah memberikan tempat beristirahat yang aman dan nyaman bagi keluarganya. Rumah singgah menjadi tempat di mana mereka bisa tetap beristirahat dan merawat anak tanpa harus merasa tertekan.
Ketua Yayasan Ronald McDonald House Charities (RMHC), Caroline Djajadiningrat, menjelaskan bahwa rumah singgah tidak hanya berfungsi sebagai tempat tinggal sementara, tetapi juga sebagai ruang pemulihan emosional bagi anak dan keluarga. Hal ini penting untuk menjaga kesejahteraan psikologis anak selama proses pengobatan yang berlangsung dalam jangka panjang.

