Kadin: Selat Hormuz Dibuka, Proyeksi Pemulihan Bisnis Global
Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Anindya Bakrie, memberikan pandangannya terkait kembali dibukanya Selat Hormuz setelah ketegangan antara Iran dan Israel yang mengganggu rantai pasok global. Menurutnya, dunia usaha akan butuh waktu selama 30-60 hari untuk pulih setelah insiden tersebut.
Pemulihan Pasca Ketegangan Geopolitik
Anindya menyampaikan bahwa meskipun kesepakatan telah tercapai, proses pemulihan tidak bisa terjadi secara instan. Pelaku usaha harus menunggu implementasi dan normalisasi distribusi barang. Hal ini disambut baik oleh dunia usaha, seperti terlihat dari penurunan harga minyak internasional.
“Harga minyak sudah mulai turun. Baru kemarin ada kesepakatan antara Amerika dan Iran, pasti butuh untuk pendetailan, dan juga untuk aktualisasinya di lapangan. Kita mesti lihat, mungkin dalam waktu 30-60 hari ini, udah bisa kembali senormal mungkin. Kita lihat lah hasilnya,” ungkap Anindya.
Implikasi Perang terhadap Rantai Pasok Global
Perang sebelumnya telah mengganggu rantai pasok global, meningkatkan biaya logistik dan mengurangi ketersediaan bahan baku bagi industri. Anindya mengingatkan pentingnya Indonesia memperkuat ekonominya agar lebih tangguh menghadapi gejolak eksternal di masa depan, terutama sektor padat karya dan padat modal.
“Yang padat karya, karena kan kita kerjanya besar, dan itu membawa kemandirian daripada pangan. Tapi juga sektor yang membutuhkan banyak dana masuk. Nah, itu kita mesti proteksi supaya, satu, investasinya masuk,” tambahnya.

