Ulasan Ekonom terhadap Pelemahan Ekspor Indonesia
Jumat, 3 Juli 2026 – Menurut analisis Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, fondasi ekspor Indonesia masih tetap kuat, meskipun terjadi kontraksi sebesar 4,5 persen pada ekspor non-migas pada bulan Mei 2026.
Penekanan pada Beberapa Komoditas Utama
Yusuf menyatakan bahwa pelemahan tersebut lebih disebabkan oleh penurunan pada sejumlah komoditas tertentu, namun secara keseluruhan, kinerja ekspor masih mengalami pertumbuhan.
“Jika melihat secara detail kontraksi ekspor non-migas sebesar 4,5 persen pada Mei 2026, tekanan tersebut lebih terfokus pada beberapa komoditas utama, dan bukan mencerminkan pelemahan secara menyeluruh,” ujar Yusuf pada Jumat, 3 Juli 2026.
Penurunan Produksi Padi dan Faktor-faktor Penyebabnya
Sementara itu, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa produksi padi mengalami penurunan signifikan, hanya mencapai 4,92 juta ton pada bulan Mei 2026. Hal ini bisa menjadi faktor yang memengaruhi kinerja ekspor Indonesia.
Nilai total ekspor Indonesia pada bulan Mei 2026 mencapai US$23,2 miliar, mengalami penurunan sebesar 5,73 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Kontraksi ini terutama dipicu oleh penurunan ekspor non-migas, yang mencapai nilai US$22,45 miliar atau turun 4,5 persen jika dibandingkan dengan Mei 2025.
Penurunan terbesar terjadi pada ekspor logam mulia, perhiasan, dan permata yang turun 59,35 persen. Selain itu, ekspor bijih logam, terak, dan abu juga mengalami penurunan yang signifikan.
Meskipun demikian, Yusuf menyatakan bahwa kebijakan pemerintah dalam melarang ekspor bahan mentah merupakan langkah untuk mendorong hilirisasi. Sehingga, pelemahan ekspor tersebut lebih disebabkan oleh kebijakan daripada kondisi pasar global.

