Film Hasut mengandalkan rancangan audio sebagai bagian penting dari pengalaman ceritanya. Siera mengungkapkan bahwa terdapat frekuensi tertentu yang secara khusus disiapkan untuk penayangan di bioskop dan dikhawatirkan tidak terdengar ketika film disaksikan melalui medium lain.
Keberadaan frekuensi itu bukan sekadar pelengkap teknis. Menurut Siera, unsur tersebut dapat memengaruhi cara penonton menilai para tokoh, terutama dalam menentukan siapa yang patut dipercaya sepanjang cerita.
“Ada frekuensi yang cuma bisa didengar di bioskop. Beneran ini spoiler aja ya. Jadi kalau misalnya nonton di tempat lain takutnya enggak kedengeran,” kata Siera saat membocorkan salah satu elemen audio dalam film tersebut.
Audio menjadi petunjuk bagi penonton
Penjelasan Siera menempatkan suara sebagai bagian dari petunjuk yang harus diperhatikan selama menonton. Frekuensi yang ia sebut hanya dapat terdengar di bioskop itu berkaitan dengan persepsi penonton terhadap karakter-karakter dalam Hasut.
Film ini menghadirkan Karina, Manda, Lio, dan Kevin sebagai tokoh yang dapat dinilai secara berbeda oleh setiap penonton. Alih-alih memberikan pembagian tegas mengenai pihak yang benar atau salah, cerita tersebut membuka ruang bagi penonton untuk memilih karakter yang mereka percaya.
Karena itu, pengalaman menyaksikan Hasut tidak hanya bertumpu pada apa yang terlihat di layar. Audio yang dirancang untuk ruang bioskop disebut ikut membentuk penafsiran atas tindakan dan posisi masing-masing tokoh. Apabila unsur tersebut tidak terdengar, Siera mengkhawatirkan ada bagian dari pengalaman film yang tidak diterima secara utuh.
Empat tokoh, pilihan kepercayaan berbeda
Ambiguitas antartokoh menjadi salah satu pokok yang ditekankan Siera. Ia menyebut tidak ada karakter yang dapat begitu saja ditempatkan sebagai pihak yang sepenuhnya benar maupun salah. Penonton justru didorong untuk menyusun penilaian sendiri berdasarkan cerita yang mereka ikuti, termasuk petunjuk dari audionya.
“Di film ini enggak ada yang benar dan enggak ada yang salah. Jadi kalian harus nonton di bioskop untuk berantem sama teman yang nonton, untuk punya jagonya masing-masing. Apakah Karina, Manda, Lio, atau Kevin, siapa yang kamu percaya,” tutur Siera.
Pernyataan itu menggambarkan kemungkinan munculnya perbedaan pandangan setelah pemutaran. Dua orang yang menyaksikan cerita yang sama dapat berpihak kepada tokoh berbeda karena masing-masing menangkap dan menafsirkan petunjuk dengan cara yang tidak seragam.
Dengan rancangan tersebut, penayangan di bioskop menjadi bagian yang ditekankan dalam menikmati Hasut. Siera menilai frekuensi tersembunyi dalam audionya perlu didengar karena dapat ikut menentukan apakah penonton memilih mempercayai Karina, Manda, Lio, atau Kevin.

