Monday, October 12, 2026
HomeEkonomiInflasi RI September 2026 Capai 3,28%, Pangan-Emas Disorot

Inflasi RI September 2026 Capai 3,28%, Pangan-Emas Disorot

Inflasi Indonesia pada September 2026 mencapai 3,28 persen secara tahunan. Badan Pusat Statistik (BPS) juga mencatat inflasi bulanan sebesar 0,30 persen dan inflasi tahun kalender sebesar 2,17 persen.

Tekanan harga tahunan terutama berasal dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau; transportasi; serta perawatan pribadi dan jasa lainnya. Kenaikan tersebut tercermin pada Indeks Harga Konsumen (IHK) yang meningkat dari 108,74 pada September 2025 menjadi 112,31 pada September 2026.

“Terjadi kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK), dari 108,74 pada September 2025 menjadi 112,31 pada September 2026,” kata Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono dalam rilis BPS di Jakarta, Kamis (1/10/2026).

Pangan, transportasi, dan emas menjadi pendorong

Kelompok makanan, minuman, dan tembakau mengalami inflasi tahunan sebesar 4,37 persen dengan andil 1,28 persen terhadap inflasi nasional. Komoditas yang mendorong kenaikan antara lain ikan segar, daging ayam ras, cabai rawit, beras, minyak goreng, sigaret kretek mesin (SKM), dan daging sapi.

Kelompok transportasi mencatat inflasi 4,84 persen dengan andil 0,58 persen. Kenaikan terutama dipengaruhi oleh harga bensin, tarif angkutan udara, pelumas atau oli mesin, sepeda motor, biaya pemeliharaan atau servis, serta mobil.

Sementara itu, inflasi pada kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mencapai 7,77 persen dengan andil 0,53 persen. BPS menyebut kenaikan kelompok ini terutama dipengaruhi oleh harga emas perhiasan.

Seluruh komponen mengalami inflasi

Berdasarkan komponennya, seluruh kelompok pembentuk inflasi mencatat kenaikan secara tahunan pada September 2026. Inflasi inti tercatat sebesar 2,84 persen dengan andil 1,82 persen. Komoditas yang dominan menyumbang inflasi inti meliputi emas perhiasan, minyak goreng, nasi dengan lauk, telepon seluler, laptop atau notebook, serta pelumas atau oli mesin.

Komponen harga yang diatur pemerintah atau administered price mengalami inflasi 3,25 persen dengan andil 0,63 persen. Kenaikannya terutama berasal dari bensin, tarif angkutan udara, SKM, dan bahan bakar rumah tangga.

Adapun komponen harga bergejolak atau volatile food mencatat inflasi tahunan 5,03 persen dengan andil 0,83 persen. Tekanan pada komponen ini terutama datang dari daging ayam ras, cabai rawit, beras, dan daging sapi.

Inflasi terjadi di seluruh provinsi

Dari sisi wilayah, seluruh provinsi mengalami inflasi tahunan pada September 2026. Sulawesi Utara mencatat inflasi tertinggi, yakni 7,59 persen. Sementara itu, inflasi terendah terjadi di Sumatera Selatan sebesar 2,55 persen.

Source link

RELATED ARTICLES

Paling Populer