Di Indonesia, banjir menjadi salah satu masalah lingkungan yang kerap terjadi dan menyebabkan kerugian. Hal ini diakibatkan oleh interaksi manusia dengan alam yang tidak seimbang, terutama dengan terlalu mengandalkan beton sebagai solusi. Untuk mengatasi masalah ini, konsep Nature-Based Solutions (NBS) menjadi jawaban yang lebih efektif dan berkelanjutan.
NBS sendiri adalah pendekatan yang menyelesaikan masalah lingkungan dengan bekerja bersama alam. Berbeda dengan infrastruktur konvensional, NBS memanfaatkan fungsi alami ekosistem untuk mengurangi banjir dan menjaga ketersediaan air. Di Indonesia, NBS menjadi sangat penting mengingat kondisi negara yang rawan banjir, longsor, dan krisis air musiman.
Salah satu contoh penerapan NBS yang sudah ada sejak lama adalah melalui praktik kearifan lokal seperti hutan larangan adat di daerah hulu. Hutan larangan adat berfungsi sebagai menara air alami karena tutupan pohonnya dapat menyerap air hujan, mengurangi risiko banjir di wilayah hilir. Rawa lebak juga turut berperan sebagai penyimpan air alami yang membantu mencegah luapan air ke permukiman saat musim hujan.
Seiring perkembangan zaman, teknik agroforestri kopi menjadi salah satu solusi alam yang terbukti efektif dalam mengelola ekosistem manusia dan alam. Di berbagai daerah di Indonesia, teknik agroforestri kopi digunakan untuk mencegah banjir, meningkatkan kesuburan tanah, dan mendukung keberlanjutan hasil pertanian.
Meskipun NBS terbukti memiliki banyak manfaat, penerapannya masih menghadapi beberapa tantangan. Sulitnya mengukur dampak dari NBS secara finansial, tata kelola yang terfragmentasi antar lembaga, serta keraguan publik menjadi hal-hal yang perlu diatasi untuk mendorong penerapan NBS secara lebih luas.
Investasi dalam NBS dianggap sebagai langkah cerdas untuk masa depan yang lebih baik. Dengan memasukkan konsep NBS ke dalam pembangunan dan melibatkan masyarakat secara aktif, kita dapat berubah dari sekadar bertahan menjadi lebih tangguh dalam menghadapi tantangan lingkungan. Jadi, mulailah dari hal kecil seperti secangkir kopi dan sejengkal tanah yang terjaga, karena dari situlah solusi banjir dimulai.

