Kepala Badan Pengendalian Pembangunan dan Investigasi Khusus (Bappisus) Aris Marsudiyanto memastikan bahwa harga bahan bakar minyak (BBM) di Indonesia tidak akan mengalami kenaikan meskipun harga minyak dunia mengalami lonjakan akibat perang Amerika Serikat (AS) dengan Iran. Aris menjelaskan bahwa pemerintah telah melakukan koordinasi dan perhitungan matang terkait dampak perang tersebut terhadap perekonomian nasional. Beliau juga meminta masyarakat untuk tidak khawatir terhadap gejolak ekonomi yang mungkin terjadi sebagai akibat dari konflik antara AS, Israel, dan Iran.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto juga menegaskan bahwa pemerintah belum berencana untuk menaikkan harga BBM subsidi di tengah lonjakan harga minyak dunia akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Airlangga menegaskan bahwa pemerintah masih akan memantau perkembangan konflik di Timur Tengah serta dampaknya terhadap harga minyak mentah dunia sebelum mengambil langkah kebijakan lebih lanjut. Beliau juga menyebut bahwa pemerintah sedang menyiapkan skenario-skenario untuk mengantisipasi kemungkinan dampak jangka panjang dari konflik tersebut.
Seorang pakar energi dari Universitas Padjadjaran, Yayan Satyakti, mengatakan bahwa harga minyak dunia berpotensi melonjak hingga US$100 per barel dari kisaran sekitar US$72 per barel jika terjadi penutupan Selat Hormuz. Hal ini menjelaskan bahwa ada potensi lonjakan harga minyak yang signifikan sebagai dampak dari ketegangan di Timur Tengah. Selain itu, harga minyak dunia juga turun setelah Donald Trump mengungkapkan bahwa perang dengan Iran hampir selesai, yang menyebabkan pasar saham global menguat meskipun risiko gangguan pasokan energi masih tinggi.

