Monday, October 12, 2026
HomeEkonomiKonglomerat Berharta Rp875 Triliun Tanpa Anak, Siapa Pewarisnya?

Konglomerat Berharta Rp875 Triliun Tanpa Anak, Siapa Pewarisnya?

Klaus-Michael Kühne meninggal dunia pada usia 89 tahun di pekan terakhir Agustus 2026. Ia pergi sebagai salah satu orang terkaya di dunia, dengan kekayaan sekitar US$49 miliar atau setara Rp875 triliun berdasarkan asumsi kurs Rp17.850 per dolar AS. Namun, tidak seperti banyak konglomerat lain, Kühne tidak memiliki anak yang dapat langsung menjadi penerus kekayaannya.

Jauh sebelum wafat, pengusaha asal Jerman itu telah menyiapkan bagaimana aset dan kerajaan bisnisnya akan diteruskan. Sumber yang tersedia tidak merinci bentuk pengalihan kekayaan tersebut, tetapi kepergiannya dipastikan mengubah cara perusahaan-perusahaan yang berada di bawah pengaruhnya mengambil keputusan.

Kerajaan bisnis dari logistik hingga penerbangan

Sebagian besar kekayaan Kühne berasal dari kepemilikan sekitar 60 persen saham Kühne+Nagel, perusahaan freight forwarding yang didirikan oleh kakeknya. Dari bisnis keluarga itu, ia memperluas portofolio ke berbagai sektor, mulai dari pelayaran, bahan kimia, transportasi, penerbangan, hingga properti.

Kühne memiliki sekitar 30 persen saham perusahaan pelayaran Hapag-Lloyd dan sekitar 20 persen saham perusahaan bahan kimia Brenntag. Ia juga memegang kepemilikan signifikan di perusahaan bus Flix. Melalui Kühne Holding, kepemilikannya di grup maskapai Jerman Deutsche Lufthansa meningkat hingga 20 persen pada awal 2026.

Portofolio tersebut turut mencakup sektor properti dan hotel mewah. Salah satu aset yang dikenal adalah The Fontenay, hotel yang berada di Hamburg, kota kelahiran Kühne.

Menurut Bloomberg Billionaires Index, nilai kekayaan Kühne meningkat lebih dari empat kali lipat dalam satu dekade terakhir. Pertumbuhan itu berlangsung meski ia telah lama tidak memegang posisi eksekutif utama di perusahaan-perusahaannya.

Pengaruh kuat meski tak lagi menjadi eksekutif

Kühne meninggalkan jabatan CEO sekitar 1992 dan mundur dari posisi chairman pada 2011. Kendati demikian, pengaruhnya terhadap arah strategi bisnis tetap kuat selama bertahun-tahun. Ia dikenal sebagai pengusaha yang keras, lugas, dan memiliki kendali besar atas keputusan perusahaan.

Georg von Schnurbein, profesor manajemen yayasan sekaligus pakar filantropi dari University of Basel, menyebut Kühne sebagai figur yang sangat dominan. “Klaus-Michael Kühne adalah sosok yang sangat dominan. Dia bertindak secara mandiri, mengambil tanggung jawab penuh dan sangat sukses,” kata von Schnurbein, dikutip dari Swiss Info, Senin (5/10/2026).

Menurut von Schnurbein, perubahan paling besar setelah kematian Kühne bukan hanya terkait siapa yang meneruskan kekayaannya, melainkan mekanisme pengambilan keputusan dalam bisnis. Kekuasaan yang sebelumnya terpusat pada satu orang kini harus dijalankan oleh sebuah dewan.

“Dewan tidak akan pernah bisa bertindak dengan cara yang sama. Akan ada lebih banyak diskusi dan tingkat keberanian dalam mengambil risiko tidak akan sama,” ujarnya.

Source link

RELATED ARTICLES

Paling Populer