Nike menyiapkan pemutusan hubungan kerja (PHK) tambahan yang pemberitahuannya baru akan dimulai pada 2027. Rencana tersebut menjadi bagian dari restrukturisasi bisnis yang lebih luas ketika perusahaan berupaya memulihkan kinerja di bawah kepemimpinan CEO Elliott Hill.
Produsen perlengkapan olahraga asal Amerika Serikat itu belum mengungkap jumlah posisi maupun lokasi pekerjaan yang akan terdampak. Keputusan tersebut disampaikan setelah Nike memperkirakan penurunan pendapatan tahunan yang lebih dalam dibandingkan proyeksi analis.
Proyeksi pendapatan memburuk
Untuk tahun fiskal 2027, Nike memperkirakan pendapatannya turun dalam kisaran satu digit tinggi. Perkiraan itu lebih buruk daripada proyeksi analis yang memprediksi penurunan sekitar 2 persen.
Hill mengatakan, kinerja Nike Performance belum cukup kuat untuk menutup tekanan dari sejumlah lini bisnis lain. “Bisnis Nike Performance kami belum cukup besar untuk mengimbangi tekanan yang kami lihat di Nike Sportswear, merek Jordan, dan Greater China,” kata Hill, dikutip dari Reuters, Minggu (4/10/2026).
Menurut dia, pemulihan lini bisnis yang masih lemah tidak dapat dilakukan dalam waktu singkat. Nike juga sengaja mengurangi volume peluncuran produk retro Jordan sebagai bagian dari upaya memperbaiki strategi produknya.
“Menghidupkan kembali area bisnis Nike yang lemah tersebut akan membutuhkan waktu,” ujar Hill.
China menjadi salah satu titik persoalan terbesar bagi perusahaan. Penjualan Nike di negara itu tercatat menurun selama sembilan kuartal berturut-turut.
Struktur operasional global diubah
Restrukturisasi terbaru tersebut melanjutkan berbagai langkah efisiensi yang telah dijalankan Nike, termasuk PHK yang diumumkan pada tahun ini. Program efisiensi itu diperkirakan menghasilkan penghematan sekitar US$2,5 miliar hingga tahun fiskal 2031.
Sebagian besar penghematan tersebut diproyeksikan terealisasi pada tahun fiskal 2029 dan 2030. Namun, Nike belum merinci apakah PHK yang direncanakan mulai 2027 akan dilakukan di wilayah tertentu atau mencakup seluruh operasi perusahaan.
Selain mengurangi tenaga kerja, Nike mengubah susunan wilayah operasional globalnya. Struktur sebelumnya akan digabung menjadi tiga kawasan utama, yaitu Amerika; Asia Pasifik dan China Raya; serta Eropa, Timur Tengah dan Afrika.
Analis GlobalData Neil Saunders menilai perubahan itu tidak secara otomatis menandakan bahwa rencana restrukturisasi Nike bermasalah. Namun, ia melihat langkah tersebut sebagai tanda bahwa model operasional lama perusahaan tidak lagi sesuai dengan kebutuhan bisnis.
“Tidak ada yang secara inheren salah dengan rencana restrukturisasi tersebut, tetapi rencana itu menunjukkan bahwa model Nike saat ini sebenarnya tidak lagi sesuai dengan tujuan, yang kemudian menimbulkan pertanyaan mengapa perubahan ini tidak dilakukan lebih awal,” kata Saunders.

